SERANG —Alat tes cepat atau rapid test menjadi perhatian ditengah pandami virus corona atau covid-19, karena alat itu bisa medeteksi penderita virus corona atau covid-19 secara massal, selain harganya tinggi rapid test sulit untuk di dapatkan, sehingga pemerintah pusat mengimpor rapid test untuk kebutuhan negara, alat tes cepat telah didistribusikan keseluruh daerah di Indonesia.
Pemerintah Provinsi Banten melalui juru bicara (Jubir) Gugus tugas covid-19 sekaligus Kepala Dinkes Banten Ati Pramudi Hastuti menyebut saat ini sedang memesan 150 ribu alat Rapid Test, karena rapid test yang sudah tersedia masih kurang untuk kebutuhan penanganan covid-19 di Banten.
“Kami sedang memesan sekaligus melakukan pengadaan rapidtes jumlahnya cukup banyak 150 ribu,” kata Ati, Kamis (26/03/2020).
Namun, Ati mengaku proses penerimaan rapid test belum bisa dipastikan, karena keberadaan alat rapid test mulai langka, sehingga pemerintah daerah masih menunggu kepastian penerimaan terhadap alat tersebut.
“Kami tidak tahu ketersedian rapid test, apakah nanti benar diakhir April, kami sedang menunggu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pada prinsipnya pemprov banten sudah mengintruksikan kaitannya dengan anggaran penanganan covid-19, kepada seluruh Kabupaten/Kota melalui keuangan yang diberikan oleh Pemprov sesuai dengan kebutuhan daerah tersebut.
“Jadi setiap Kabupaten/Kota seharusnya tidak perlu menungu Provinsi, mereka bisa langsung melakukan pengadaan alat penanganan covid-19,” tegas Ati.
Untuk anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) yang diberikan gubernur kepada Dinkes senilai 115 Miliyar, namun dengan anggaran BTT tidak mudah untuk mendapatkan alat tes covid-19.
“Sekarang uang bukan segalanya, bukan kita tidak punya uang, tetapi pengadaan barangnya itu langka sekali, sulit didapatkan, kalaupun dapat kita harus menunggu lama,” pungkasnya. (jen/red)



