SERANG —Melalui rapat pimpinan lembaga (27/03), Perguruan Tinggi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten resmi memperpanjang masa kuliah online hingga 30 Juni 2020, hal itu dilakukan guna mencegah penyebaran virus corona atau coronavirus Disease (covid-19) di lingkungan kampus.
Menyikapi hal tersebut, Aktivis Mahasiswa UIN Banten Zamsani mengapresiasi kebijakan petinggi kampus, namun, menurutnya petinggi kampus harus peduli terhadap warga yang ada di sekitar lingkungan kampus tersebut.
“Jangan hanya memberikan himbauan, minimal memberikan sumbangsih kepada warga bagi-bagi masker dan handsanitizer,” ucap Zamsani kepada updatenews.co.id saat dihubungi melalui sambungan telephon seluller, Sabtu (28/03/2020).
Terlebih, dijelaskan Zamsani bahwa Mahasiswa masuk perguruan tinggi UIN tidak sembarang, tapi, diakuinya, mahasiwa dicekik dengan kewajiban harus membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang sangat besar, sehingga disaat kulaih tidak normal setengah UKT harusnya diberikan dan dimanfaatkan untuk kebutuhan rakyat.
“Kami dirumahkan tentu merasa rugi, namun mau bagaimana kondisi negara saat ini lagi tidak normal, 50 persen UKT itu sia-sia dimakan lembaga, nah kami ingin uang UKT bisa dimanfaatkan untuk umat,” katanya.
Ia menjelaskan, perguruan tinggi UIN Banten sebagai pendidikan yang berbasis kerakyatan, sehingga dominasi klas menengah lebih banyak, disisi lain pengelolaan keuangannya diambil dari pajak rakyat melalui bayaran UKTBKT, namun dengan status tersebut lembaga tidak mengaplikasikan prinsip gotong royong terhada rakyat.
“Ditengah penyebaran virus corona lembaga diam tidak berbuat kepada rakyat, padahal warga ciceri sangat membutuhkan alat pelindung masker, handsanitizer, sembako juga dibutuhkan, ini berarti belum mencerminkan kampus yang ramah lingkungan dan abdi bagi masyarakat luas,” tegasnya.
Mahasiswa yang merupakan aktivis organisasi serikat mahasiswa sosialis demokratik (SWOT) itu mendesak bahwa civitas akademik atau lembaga secepatnya berbuat kepada rakyat dalam mengatasi penyebaran virus corona di Kota Serang,
“Kami prihatin jika lembaga diam saja, rakyat berharap penuh dengan adanya tindakan lebih dari lembaga,” ungkapnya.
Menurutnya, penyebaran covid-19 semakin masif di daerah perkotaan termasuk Kota Serang, sehingg beberapa tempat yang padat penduduk seperti di ciceri terdapat kos kosan mahasiswa yang berhamburan mengelilinginya, hal itu akan membuat mahasiswa dan warga semakin cemas dan panik, karena ketersediaan alat pencegah virus terbatas.
“Kami tidak pulang kerumah, dikosan aja ngerjain kuliah onlinenya, kami khawatir dengan penyebaran covid-19,” terangnya.
Ia berharap, lembaga segera meserspon keluhan mahasiswa dan rakyat, karena kondisi rakyat saat ini harus segela diselamatkan oleh seluruh pihak terkhsus negara bertanggungjawab atas keselamatan rakyat.
“Semoga aja penyebaran virus dapat dihentikan, semuanya harus peduli kepada rakyat,” tutupnya. (jen/red)



