SERANG — Upaya pemerintah untuk mencegah penyebaran virus corona terus digencarkan, salah satunya dengan membatasi aktivitas sosial, beberapa peraturan termasuk “merumahkan” dunia pendidikan sudah diterapkan, pasalnya sistem pembelajar tatap muka kini diganti dengan penerapan sistem belajar daring (online) dari rumah masing-masing.
Proses pembelajarang online sudah beberapa pekan dilangsungkan, kesiapan guru dan siswa dalam pembelajara home learning memiliki tanggapan yang beragam, tentunya ada yang sudah siap, keterpaksaan siap, dan tidak siap, karena selain faktor Sumber daya manusia (SDM) daerah yang minim ekonomi, dan akses jaringan tersendat dirugikan dengan pembelejaran melalui sistem daring tersebut.
Ditengah pembelajar sistem Daring Tim Updatenews.co.id menelusuri salah satu kecamatan Padarincang yang terletak di wilayah Kabupaten Serang, Banten. Daerah ini pendapatan ekonominya masih terbilang minim, terlebih kebanyak warga mata pencahariannya disektor tani.
Kepada updatenews.co.id salah satu guru Elektronika SMKN 1 Padarincang Faisal Amirul Mukminin, bercerita bahwa sebagian guru mengeluh dengan penerapan sistem belajaran Daring. Alasannya, kata dia tidak semua muridnya itu memiliki Handphone, sehingg walaupun dipaksakan belajar Daring tidak efektif untuk pembajaran siswa.
“Kebetulan Padarincang bukan daerah Kota banget. Jadi permasalahan utama dari siswa yang tidak punya HP dan nggak semuanya punya paket data. Jujur guru juga nggak begitu paham tentang sistem ini, apalagi anaknya. Ya banyak kendalanya sih, tapi yang terpenting HP dan data,” katanya kepada Updatenews.co.id, Minggu, (29/03/2020).
Sebelumnya, Dijelaskan Faisal sekolahnya pernah menerapkan belajar melalui medote online sesuai anjuran pemerintah, namun, menurutnya karena keterbatasan pengetahuan teknologi dan tidak ditunjang dengan fasilitas kebanyakan muridnya mengeluh.
“Sama sekali nggak punya HP juga ada, HP nya jadul juga ada. Kalau di kelas saya, pernah ujian online yang diberikan, dari 20 siswa lebih dari setengahnya tidak mengerjakan. Ini kan kendala,” Jelas Faisal.
Meski begitu, faisal mengkau guru harus menjalankan kebijakan pemerintah dalam mencegah penyebaran covid-19, Kegiatan belejar mengajar (KBM) tetap harus dipaksakan, adapun efektif atau tidak, kata dia yang penting indikator keaktifan siswa menjadi prioritas penilaian.
Namun, ia merasa bahwa terkadang pembelajaran online melalui web Saba Banten yang disediakan pemerintah mengalami eror. Karena disebabkan oleh banyaknya pengguna, sehingga server tidak kuat menampungnya
“Setahu saya kebijakan wajib Daring, malah diwajibkan menggunakan website saba Banten itu. Terlebih website nya sering eror. Mungkin servernya 1, semua merujuk kesitu jadi eror,” ujar Faisal.
Berdasarkan beberapa pekan pelaksanaan belajar online, Faisal merasa bingung karena kegiatan KBM harus berlangsung tapi sekolah dan siswa tidak bisa mengikuti belajar online, dengan keterbatasan SDM itu, Faisal mengambil langkah dengan mengganti sistem online melalui pembebanan tugas individu siswa.
“Masih bingung gimana ada KBM tapi tidak ada tatap muka langsung. Pastinya tidak bisa disamaratakan di semua Sekolah,” ungkapnya.
Ditegaskan Faisal, ketika perubahan sistem belajar pertama yang dilakukan menghubungi orang tua murid, sehingga konektifitas informasi tersampaikan dan berjalan dengan baik.
“Selain siswa disekolah, orang tuanya juga harus tau agar dapat menyetujui perubahan ini,” terang Faisal.
Terkahir, ia berharap pemerintah harus mencari soslusi yang baik dengan dasar kebijakannya menyeseuaikan atas kondisi objektif daerah masing-masing, sehingga terbangun karakter murid dan pembelajaran berjalan dengan semestinya.
“Siswa mengeluhkan banyak tugas. Karena kami guru mau gimana lagi melakukan tahap belajarnya kalau bukan dari tugas. Memberikan tugas itu untuk individu agar tidak main dan bergerombolan juga sesuai perintah pemerintah,” tutup Faisal. (Jen/red)



