Updatenews.co.id – Setahun berlalu corona menerjang Indonesia, Social distancing merupakan salah satu kebijakan yang dibuat pemerintah untuk mencegah penularan Covid-19.
Dengan dibuatnya kebijakan tersebut masyarakat dapat menjaga jarak fisik dengan sesama. Social distancing harus diterapkan di setiap aktivitas masyarakat, termasuk dalam bidang pendidikan.
Untuk mendukung kebijakan social distancing itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran Kemendikbud Dikti No.1 tahun 2020, yang berisikan intruksi untuk melakukan pembelajaran secara daring alias online.
Kebijakan tentang pembelajaran daring ini tentu saja tidak berjalan lurus terdapat sisi positif dan negatif. Di mana hasil nilai rata-rata yang diperoleh mahasiswa saat belajar daring lebih baik dibanding dengan hasil nilai rata-rata sebelum menggunakan pembelajaran daring.
Secara tidak langsung nilai positif metode belajar daring dapat mempengaruhi kemampuan literasi mahasiswa secara signifikan.
Alfa, Salah seorang mahasiswa UIN Banten, Prodi Komunikasi Penyiaran Islam menceritakan bahwa perolehan nilai yang tinggi tidak dapat menjadi acuan mahasiswa paham dengan materi perkuliahan.
Alfa juga mengurai pembelajaran daring selama ini kurang efektif karena dosen terlalu fokus untuk memberikan tugas dibandingkan materi. Bahkan mahasiswa lebih banyak merasakan dampak negatif ketimbang positif dari kuliah online.
“Sejak kuliah online, nilai rata-rata memang terbilang stabil. namun, nilai saja dirasa kurang cukup untuk profesi nantinya setelah lulus, mahasiswa seharusnya lebih banyak peraktik di lapangan dari pada sekedar tugas dengan materi yang belum tentu dipahami”. Tutur Alfa kepada Updatenews.co.id, Sabtu 13 Maret 2021.
Alfa juga menambahkan, bahwa akses internet juga penting untuk menunjang kuliah online, mahasiswa masih terbebani oleh biaya untuk membeli kuota yang masih keluar dari kantong pribadi.
“Akses internet juga mempunyai peran besar dalam pembelajaran daring. Belum meratanya ketersediaan internet di Indonesia menyebabkan sebagian mahasiswa kesulitas untuk mengakses materi pembelajaran. Hal ini menyebabkan mahasiswa kesulitan untuk memahami materi pembelajaran,” Jelas Alfa.
Hal serupa disampaikan Mahasiswi, Intan Nurbaiti, Ia menuturkan kuliah online mulanya diprediksi akan berjalan dengan baik, tapi ditengah kuliah online ternyata ada beberapa kendala yang justru membebani mahasiwa.
“Kuliah online itu gak enak, nah gaenaknya itu benar-benar harus siap sinyal sama kuota, sedangkan signal susah,” Katanya.
Mahasiswi Program S1 Jurusan Ekonomi Syariah menegaskan, lebih baik kuliah secara tatap muka daripada harus menggunakan sistem daring.
“Dirumah koneksinya buruk, sedangkan kita harus mengerjakan tugas-tugas yang numpuk dari dosen,” terangnya.
Mahasiswa yang akrba dipanggil Intan itu bercerita, akibat mewabahnya virus corona di Provinsi Banten. Kini semua mata kuliah dialihkan ke sistem daring, kendala yang nyata tentu saja masalah signal, ketika signal jelek akan berakibat pada presentasi kuliah melalui aplikasi atau menggunakan metode vidio call.
“Vidio call itu harus signal bagus dan paket data mendukung, nah ini udah signal jelek pemaparan belajar juga tersendat, suara tidak jelas,” jelas Intan.
Selain itu, Intan melanjutkan, butuh puluhan data yang digunakan setiap pekannya, karena harus full dihadapan laptop. Bahkan, diakuinya, akibat keseringan beli paket berimbas pada pengeluaran yang semakin besar dan menjadi beban orang tua.
“kita harus berkutik dihadapa laptop setiap harinya, supaya tidak ketinggalan info gitu, makannya pantengin laptop dari pagi sampe mau malem, ribet pokonya,” paparnya.
Meski begitu, Intan mengaku ada sisi positifnya kuliah daring, karena waktu dengan keluarga sangat banyak, ada beberapa dosen juga yang menerapkan waktu belajar singkat.
“Ada dosen yang mempersingkat waktu, yang tadinya belajar 2 SKS (100 menit) jadi 40 menit. Kuliah daring juga bisa sambil santai, tapi suka dadakan belajarnya, karena kan dosenya beda-beda,” tandasnya (jen/red)



