PANDEGLANG, – Muslim (95) warga Kampung Kadu Layung, Desa Mekarwangi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang kini tengah berjuang melawan penyakit batu ginjal yang di deritanya sejak 10 tahun lalu.
Saat ditemui di kediamannya, Muslim mengaku pada tahun 2015 silam ia sempat menjalani operasi kelamin karena tidak bisa kencing lantaran mengalami masalah yang disebabkan oleh penyempitan saluran kemih dan masalah lain pada kandung kemihnya.
Karena seiring bertambahnya usia, penyakit yang dideritanya itu kembali kambuh. Muslim mengaku saat ini dirinya tengah menjalani pengobatan rutin sejak empat bulan terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Berkah Pandeglang.
“Dulu pernah operasi kelamin karena tidak bisa kencing. Dulu operasinya di RSUD Serang (RSUD Drajat Prawira Negara Serang). Sekarang kambuh lagi sedang menjalani pengobatan berjalan di RSUD Berkah,” tuturnya kepada media Minggu, 27 April 2025.
Muslim mengatakan, sejak empat bulan lalu ia kembali merasakan gejala penyakitnya seperti nyeri hebat di punggung atau perut bawah hingga nyeri saat buang air kecil.
Kendati demikian, Muslim berharap meskipun saat ini dirinya divonis mengidap batu ginjal namun dapat sembuh dengan berobat jalan.
“Semoga tidak sampai operasi saja, selama empat bulan ini sudah melakukan berobat jalan kata dokter batu ginjal,” ujarnya.
Untuk diketahui, Penyakit batu ginjal atau nefrolitiasis adalah kondisi akibat terbentuknya endapan padat di dalam ginjal yang berasal dari zat kimia dalam urine.
Ukuran batu ginjal bisa mulai dari sekecil butiran pasir hingga sebesar kacang polong.
Batu ginjal dapat terjadi di sepanjang saluran urine, yaitu dari ginjal, ureter (saluran yang membawa urine dari ginjal menuju kandung kemih), kandung kemih, dan uretra (saluran yang membawa urine ke luar tubuh).
Ia menyadari, sebagai seorang petani yang kerap melakukan pekerjaan berat serta pola makan yang tidak sehat menjadi salah satu penyebab penyakit yang dideritanya.
“Memang kurang minum, kata dokter banyakin minum sama makan yang banyak garam dipantangin dulu,” katanya.
Kakek yang memiliki 21 cucu ini terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kelas tiga dari segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dibiayai oleh pemerintah.
Ia mengaku sangat bersyukur telah terdaftar sebagai peserta JKN dari bantuan pemerintah ditengah ekonomi keluarga yang pas-pasan.
“Alhamdulillah ada bantuan dari BPJS Kesehatan, sehingga kalo berobat bisa gratis. Dan bisa tenang juga menghadapi penyakit kencing batu saya,” ungkapnya.
Muslim mengaku, BPJS Kesehatan telah banyak membantu dirinya dan keluarganya. Dengan hadirnya JKN menurutnya kehadiran pemerintah sangat dirasakan oleh masyarakat desa yang tidak mampu.
Tentunya, Muslim menilai bahwa program JKN patut dipertahankan karena telah banyak memberikan manfaat khususnya kepada masyarakat miskin di desa-desa.
“Masyarakat kecil kalo mau berobat terus bayar uangnya dari mana? Apalagi yang kerjanya sebagai buruh tani dengan hasil yang tidak seberapa, untung ada BPJS Kesehatan yang bisa menjamin,” ungkapnya.
Ia juga mengaku sangat berterimakasih kepada peserta JKN yang rutin membayar iuran setiap bulannya. Karena ia baru mengetahui jika biaya operasi dan pengobatan yang dilakukan oleh masyarakat miskin merupakan hasil dari subsidi silang peserta JKN yang rutin membayar iuran.
“Oh jadi dananya itu juga dari peserta yang bayar ya. Ia terimakasih juga kepada peserta lain yang rutin bayar iuran. Semoga diberi kesehatan selalu, dan diberikan rezeki yang banyak,” ucapannya.
Muslim menambahkan, selama menjalani operasi hingga berobat jalan ia tidak pernah mengeluarkan biaya sepeserpun. Muslim juga mengaku, pelayanan kesehatan yang diterimanya selalu baik dan memuaskan.
“Alhamdulillah Abah gak pernah bayar, dan pelayanannya juga bagus, ya kalo ongkos mobil dari rumah bayar, tapi kalo semua biaya obat dan pemeriksaan gratis,” ujarnya dengan gelak tawa ringan. (Adv)



