IUPDATENEWS.CO.ID, – Nama Si Pitung telah lama menempati ruang utama dalam ingatan kolektif masyarakat Betawi sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Namun sejarah kerap bekerja secara selektif: mengangkat satu figur, sambil menenggelamkan tokoh-tokoh lain yang justru menjadi fondasi gerakan itu sendiri.
Salah satunya adalah Bang Rais atau Haji Rais, jawara sepuh Rawabelong yang perannya jauh melampaui sekadar “guru silat”.
Bang Rais bernama lengkap Entol Rais bin Entol Amin, bukan hanya mentor spiritual Si Pitung, melainkan arsitek ideologis dan strategis dari perlawanan rakyat Betawi terhadap penindasan tuan tanah dan kekuasaan kolonial.
Ia hidup di persimpangan penting antara agama, tradisi jawara, dan keadilan sosial, sebuah kombinasi yang menjelaskan mengapa gerakannya begitu mengakar di tengah rakyat kecil.
Perlawanan yang Berbasis Iman dan Jaringan Sosial
Berbeda dengan citra perampok dalam catatan kolonial, Bang Rais membangun perlawanan melalui surau, pengajian, dan perguruan silat. Dari ruang-ruang inilah lahir jaringan jawara Betawi, termasuk Ali yang kemudian dikenal sebagai Si Pitung.
Perlawanan bukan diajarkan sebagai kekerasan semata, melainkan sebagai tanggung jawab moral: mengambil dari yang menindas, lalu mengembalikannya kepada yang tertindas.
Aksi-aksi besar yang dirancang Bang Rais seperti perampokan gudang beras Tan Siek In (1888–1889) hingga Serangan Kilat Karawang (1891) menunjukkan bahwa perlawanan rakyat saat itu bukan spontanitas, melainkan gerakan terencana, berbasis logistik, solidaritas sosial, dan legitimasi moral.
Fakta bahwa hasil rampokan dibagikan melalui surau, disertai doa untuk yatim, janda, dan petani miskin, memperlihatkan dimensi keadilan distributif yang jarang dibahas dalam historiografi kolonial.
Narasi Kolonial vs Ingatan Rakyat
Catatan Belanda menyebut Bang Rais sebagai kriminal berbahaya yang akhirnya tewas ditembak pada 1901. Namun versi rakyat Betawi menyimpan cerita lain: Bang Rais diyakini tidak mati, melainkan moksa atau menghilang.
Dualisme narasi ini bukan kebetulan, melainkan cermin pertarungan ingatan antara penguasa dan rakyat.
Dalam banyak kasus kolonial, tokoh-tokoh perlawanan sengaja direduksi menjadi bandit agar kehilangan legitimasi di mata sejarah resmi.
Bang Rais adalah contoh nyata bagaimana sejarah ditulis oleh pemenang, sementara kearifan lokal bertahan lewat cerita lisan, keluarga, dan budaya populer termasuk film-film Si Pitung era 1970-an.
Mengapa Bang Rais Penting Dibicarakan Hari Ini
Mengangkat kembali sosok Bang Rais bukan sekadar romantisme masa lalu. Ia relevan di tengah situasi hari ini, ketika ketimpangan sosial, penguasaan tanah, dan ketidakadilan struktural kembali menjadi isu utama.
Bang Rais mengajarkan bahwa perlawanan tidak harus lahir dari senjata, tetapi dari kesadaran kolektif, nilai moral, dan keberpihakan kepada yang lemah.
Sejarah Betawi dan Indonesia sesungguhnya bukan cerita tentang pahlawan tunggal. Ia adalah kisah tentang jaringan ulama, jawara, dan rakyat kecil yang bergerak bersama melawan ketidakadilan.
Dalam jaringan itulah Bang Rais berdiri sebagai simpul penting yang terlalu lama luput dari sorotan.
Mengingat Bang Rais berarti mengembalikan keseimbangan sejarah: bahwa di balik legenda besar, selalu ada guru, pemikir, dan penggerak yang bekerja dalam senyap demi keberanian orang lain. ***



