PANDEGLANG, – Nama Abuya Abdul Halim tercatat sebagai salah satu tokoh besar dalam sejarah keulamaan dan kepemimpinan di Tanah Banten. Beliau bukan sekadar pejabat pemerintahan, tetapi juga maha guru ulama, figur spiritual, dan panutan umat yang memadukan kekuasaan dengan kezuhudan, ilmu dengan akhlak, serta jabatan dengan pengabdian.
Abuya Abdul Halim dikenal sebagai ulama linuhung dalam ilmu dan amaliah. Kesederhanaan menjadi napas hidupnya. Meski menjabat sebagai Bupati Pandeglang pada masa wilayah tersebut berada di bawah Keresidenan Banten, beliau tidak menjadikan jabatan sebagai sarana memperkaya diri.
Gaji bupati kala itu sekitar tiga talen, setara kurang lebih Rp3 juta per bulan dalam ukuran sekarang tidak digunakan untuk kepentingan pribadi. Bahkan, kebutuhan keluarga dan sanak saudaranya dipenuhi dari hasil bertani padi, bukan dari kas jabatan.
Kepribadian luhur Abuya Abdul Halim diakui para murid dan ulama besar. Salah satunya Abuya Muhammad Dimyathi (Cidahu) yang pernah menyatakan:
“La a‘lama wa awra‘a illa Abuya Abdul Halim”
(Saya tidak mengetahui seorang tokoh yang lebih tinggi ilmunya dan lebih wara’ selain Abuya Abdul Halim).
Pernyataan itu menegaskan betapa tingginya maqam keilmuan dan kewaro’an beliau di mata murid-muridnya.
Bupati yang Menghidupkan Pengajian
Di tengah kesibukannya sebagai bupati, Abuya Abdul Halim tidak pernah meninggalkan urusan umat. Bahkan, beliau membawa langsung pengajian masyarakat ke Pendopo Kabupaten. Pengajian itu berkembang dan diikuti oleh para pegawai pemerintahan, bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai kebutuhan ruhani mereka.
Dalam penataan pemerintahan desa, Abuya Abdul Halim menunjuk para lurah dari kalangan santri dan kiai, di antaranya KH. Asnadi bin H. Jasrip (Kadujurig, Kadueulis, Baturanjang, Cipeucang) dan Kiai Abdulmanan Garobog. Seluruhnya berada dalam pengawasan langsung beliau sebagai bupati yang karismatik dan penuh tanggung jawab.
Sebagai pengayom masyarakat, Abuya Abdul Halim dikenal sangat tawadhu, santun, dan adil, tanpa membedakan kaya dan miskin, bangsawan maupun rakyat jelata. Akhlak mulia itulah yang menjadikan kepemimpinannya diterima dengan penuh penghormatan.
Guru Thoriqoh Qodiriyah
Dalam dunia tasawuf, Abuya Abdul Halim merupakan guru Thoriqoh Qodiriyah. Beliau menerima ijazah thoriqoh dari Syekh Muqri (Abuya Muqri) bin Suqiya Karabohong Jaha, Labuan, salah satu penyebar Thoriqoh Qodiriyah di Banten yang bersanad langsung kepada Syekh Abdul Karim Tanara.
Pada masa itu, situasi politik tengah bergejolak. Banyak terjadi penculikan terhadap para kiai. Setiap malam, lingkungan pendopo dijaga ketat. Salah satu yang ikut ronda menjaga Abuya Abdul Halim adalah Ahmad Dimyati (Abuya Dimyati Cidahu) yang kala itu masih berusia sekitar 17 tahun. Pada usia muda tersebut, ia telah menerima pengamalan Thoriqoh Qodiriyah langsung dari gurunya.
Garis Keturunan Sultan Banten
Secara nasab, Abuya Abdul Halim bernama lengkap Tubagus Abdul Halim, putra dari Tubagus Muhammad Amin, bersambung hingga Sultan Abdul Fatah Tirtayasa (Sultan Ageng Tirtayasa). Garis keturunan ini menempatkan beliau sebagai bagian dari trah Kesultanan Banten, yang makam leluhurnya berada di sekitar Masjid Agung Banten bersama para tokoh besar seperti Syekh Maulana Hasanuddin, Sultan Haji, dan lainnya.
Dalam kehidupan keluarga, Abuya Abdul Halim memiliki putra-putri, di antaranya Nyai Sofiah yang bersuamikan KH. As’ad As’aduddin bin KH. Ya’qub Cikadueun, serta keturunan lainnya yang melanjutkan tradisi keilmuan dan dakwah.
Teladan Sepanjang Zaman
Abuya Abdul Halim adalah contoh nyata pemimpin yang memadukan ilmu, kekuasaan, dan spiritualitas. Sosoknya menjadi teladan bahwa jabatan bukanlah tujuan, melainkan amanah untuk mengabdi.
Hingga kini, nama beliau tetap hidup dalam ingatan masyarakat Banten sebagai bupati santri, ulama waro’, dan maha guru yang akhlaknya melampaui zamannya. ***



