Ika Sofi Anisa (Universitas Pamulang)
Angka itu jujur, satu ditambah satu akan selalu dua. Neraca pasti balance dan laba rugi tidak bisa berbohong. Tapi masalahnya, yang menyusun angka adalah manusia. Dan manusia punya target, punya atasan, punya tekanan “yang penting bulan ini terlihat bagus”.
Dari kasus Enron yamg membuat KAP sekelas Arthur Andersen tumbang, sampai kasus manipulasi laporan keuangan BUMN di Indonesia itu polanya selalu sama. Yaitu, di atas kertas semua rapi, semua wajar, dan semua lolos audit tanpa catatan. Tetapi, di baliknya ada yang ditutup-tutupi. Dan siapa yang menutupi? Yaps, akuntan juga.
Kabar baiknya, di kampusku mahasiswa akuntansi sudah diperkenalkan dengan fraud sejak semester 3 dari mata kuliah Auditing 1. Itu artinya kita dianggap cukup dewasa untuk tahu bahwa dunia akuntansi tidak sesederhana debet di kiri dan kredit di kanan. Ada area abu-abu yang namanya tekanan, rasionalisasi, dan kesempatan. Tiga sisi fraud triangle yang tidak diajarkan di mata kuliah Pengantar Akuntansi.
Tapi, mengenali saja tidak cukup. Karena fraud itu bukan soal hafalan definisi, fraud itu soal perilaku. Dan perilaku itu dibentuk dari hal kecil yang kita toleransi.
Contohnya, waktu menjadi bendahara kelas ada sisa uang kas. Lalu, notanya di markup agar “impas”. Waktu magang, lihat kakak senior membuat invoice bodong dan kita diam karena mikir “aku kan cuma anak magang”. Atau nanti, waktu sudah bekerja, mendengar kalimat “atur ya angkanya, nanti saya yang bertanggung jawab”.
Kalau dari sekarang kita latihan berkompromi, kedepannya akan gampang terbawa. Bedanya, di dunia kerja taruhannya bukan lagi nilai C tetapi taruhannya adalah penjara.
Kita adalah calon benteng terakhir laporan keuangan. Lulus nanti, nama kita ada di bawah tulisan “Disusun oleh”. Tanda tangan kita menjadi stampel bahwa angka-angka tersebut layak dipercaya oleh investor, bank, pajak, dan publik.
Kalau mental skeptis, kritis, dan berani menolak baru dilatih saat pada kita sudah bekerja, kita telat. Di ruang rapat, bicara “tidak” terhadap atasan itu tidak segampang menolak jawaban soal UAS.
Apalagi fraud di zaman sekarang sudah tidak lagi seperti dahulu. Tidak lagi hanya kuitansi kosong dan tipe-x. Sekarang sudah zaman digital, pembuatan jurnal fiktif, revenue recognition fraud, dan fraud melalui software akuntansi, yang namanya saja sudah membuat kita pusing.
Siapa yang paling paham sistem? Kita, mahasiswa. Kita yang dari SMA/SMK sudah belajar Accurate, MYOB, Excel yang rumusnya juga tidak mudah. Artinya kita punya dua pilihan, menjadi yang menutup celah, atau malah menjadi yang memanfaatkan celahnya.
Jadi, melek fraud sejak dini itu bukan berarti kita harus mencurigai semua orang. Tapi sadar bahwa setiap jurnal yang kita buat itu ada konsekuensinya. Sadar bahwa sekali nama akuntan tercoreng fraud, gelar S.Ak., di belakang nama kita tidak ada harganya.
Maka dari itu, melatih kejujuran harus dimulai dari bangku kuliah. Latihan bertanya “mana bukti transaksinya?” saat magang. Latihan menolak saat diajak memainkan RAB organisasi. Latihan mengerti bahwa integritas itu bukan mata kuliah pilihan semester akhir. Kejujuran harus menjadi default setting dari kita mengenal akuntansi.
Karena, di balik angka yang kita jaga bukan hanya laporan keuangan. Yang kita jaga adalah kepercayaan. Dan kepercayaan, sekali hilang akan susah untuk mengembalikannya. ***



