PANDEGLANG, – Nama Abuya Ahmad Salim mungkin tak sepopuler sejumlah ulama besar Banten lainnya. Namun dalam lintasan sejarah keulamaan dan perjuangan rakyat Pandeglang, sosok Abuya Ahmad Salim bin KH. Moh. Amin Karang Tanjung memiliki peran yang sangat penting dan berpengaruh pada masanya.
Diangkat dari penuturan Kang ElangTjakra, kerabat Abuya Ahmad Salim sekaligus warga asli Kampung Karang Tanjung, Abuya Ahmad Salim dikenal sebagai ulama kharismatik yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajar mengaji santri, para kiai, dan masyarakat luas.
Aktivitas keilmuan beliau tidak hanya terbatas di lingkungan pesantren, tetapi juga menjadi rujukan keagamaan bagi banyak kalangan.
Ulama, Pendidik, dan Pejuang Anti Penjajah
Selain sebagai pendidik, Abuya Ahmad Salim tercatat ikut terlibat dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda di Pandeglang, pada masa Keresidenan Banten yang dipimpin oleh KH. Achmad Chatib al-Bantani.
Hal ini menempatkan beliau bukan hanya sebagai ulama, tetapi juga bagian dari gerakan perlawanan ulama Nusantara dalam mempertahankan martabat bangsa dan agama.
Walaupun tidak semasyhur Abuya Dimyati (Mbah Dim) Cidahu Cadasari, Abuya Busthomi Cisantri, Abuya Syar’i Ciomas, maupun Abuya Munfassir Serang, namun pada zamannya Abuya Ahmad Salim menjadi magnet keilmuan. Banyak orang tua menitipkan anak-anaknya untuk mondok dan menimba ilmu di pesantren yang beliau dirikan.
Ponpes Salafiyah Alfalah, Pusat Ilmu di Karang Tanjung
Pada tahun 1920, Abuya Ahmad Salim mendirikan Pondok Pesantren Salafiyah Alfalah yang berlokasi di Kampung Karang Tanjung, Kelurahan Pagadungan, Kecamatan Karang Tanjung, Kabupaten Pandeglang, Banten. Pesantren ini sezaman dengan berdirinya pesantren ulama besar lainnya, seperti Syaikh Agung Asnawi dari Caringin, Labuan.
Tak terhitung jumlah santri yang “boyong” dari pesantren lain untuk mengais ilmu kepada beliau. Bahkan, para kiai sepuh seperti KH. Achmad Chatib al-Bantani dan Abuya Harun Kuranten Majasari tercatat pernah ikut mengaji kepada Abuya Ahmad Salim.
Nasab dan Sanad Keilmuan yang Kuat
Dari sisi nasab, Abuya Ahmad Salim merupakan keturunan ulama besar. Beliau adalah cucu dari jalur Syaikh Abdul Jabbar Kota Manik Karang Tanjung dan Syaikh Abdul Azdim Ciguludug Gunung Karang, yang merupakan saudara kandung dan terhubung melalui pernikahan KH. Moh. Amin dengan Nyai Katijah.
Sanad keilmuan beliau pun bersambung kepada Syaikh Marzuki al-Bantani, murid langsung dari Syaikh Nawawi al-Bantani, ulama besar dunia Islam asal Banten yang masyhur hingga Timur Tengah.
Ulama Produktif dan Warisan Kitab
Abuya Ahmad Salim dikenal sebagai ulama produktif dalam menulis karya keilmuan. Beberapa kitab karangannya yang dikenal antara lain:
- Kitab Wus’ah wal Ifadah
- Syi’ir Fiqih
- Syi’ir Tauhid
Masih banyak karya lain yang hingga kini belum sepenuhnya terdokumentasi secara luas.
Wafat Sebelum Kemerdekaan
Abuya Ahmad Salim wafat pada tahun 1942, jauh sebelum Indonesia merdeka. Beliau dimakamkan di kompleks Pesantren Alfalah Karang Tanjung, tempat yang menjadi saksi perjuangan, pengabdian, dan dakwah beliau sepanjang hayat.
Hingga kini, jejak keilmuan dan perjuangan Abuya Ahmad Salim tetap hidup dalam ingatan masyarakat Karang Tanjung dan Pandeglang, sebagai bagian dari sejarah ulama pejuang Banten yang layak dikenang dan diwariskan kepada generasi penerus. *


