Oleh: Rindu Irawan
UPDATENEWS.CO.ID, – Beberapa tahun belakangan ini, cara kita belajar telah berubah secara drastis. Pandemi Covid-19 memaksa dunia pendidikan untuk beradaptasi dengan pembelajaran daring, dan metode ini masih bertahan hingga saat ini, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi.
Kuliah digital ini membawa kebiasaan baru yang secara perlahan membentuk budaya belajar mahasiswa. Salah satu fenomena yang paling menonjol adalah kamera yang dimatikan. Awalnya, kebiasaan ini muncul karena alasan manusiawi, seperti rasa malu untuk menampilkan wajah, kondisi rumah yang tidak mendukung, atau keinginan untuk lebih fokus tanpa gangguan visual. Namun, seiring waktu, hampir setiap kelas daring dipenuhi oleh kotak hitam, dan hal ini berhasil mengubah dinamika interaksi yang biasanya terjadi di ruang kelas tatap muka.
Fenomena ini menarik karena berkaitan erat dengan cara mahasiswa berinteraksi, menyampaikan pesan, dan membangun kedekatan sosial, meskipun semuanya hanya terlihat melalui layar.
Fenomena ini tidak hanya terlihat secara umum, tetapi juga dapat diamati dalam satu kelas daring tertentu. Biasanya, hal ini terjadi pada kelas pagi hari. Dari 40 mahasiswa yang hadir, hanya 5 hingga 10 wajah yang terlihat di layar, sedangkan sisanya tetap tersembunyi di balik kotak hitam.
Ketika dosen mengajukan pertanyaan, suasana kelas menjadi sunyi, dan hanya sedikit mahasiswa yang menanggapi. Saat ada presentasi kelompok, peserta lain jarang memberikan tanggapan atau bertanya, sehingga interaksi terasa pasif dan canggung.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa hadir secara fisik di layar, mereka tidak sepenuhnya terlibat secara sosial, sehingga komunikasi menjadi kurang efektif.
Ketiadaan unsur visual juga memengaruhi dedikasi mahasiswa dalam berpartisipasi di kelas. Ketika wajah tidak terlihat, mahasiswa cenderung lebih pasif, bahkan terdorong untuk mengerjakan tugas mata kuliah lain, makan, atau hanya mendengarkan materi sambil bersandar.
Kondisi seperti ini membuat kelas daring terasa sunyi, meskipun jumlah pesertanya banyak. Keadaan “hadir tetapi tidak sepenuhnya ada” akhirnya membuat proses belajar kurang hidup. Hal ini menunjukkan bahwa media yang minim unsur visual menjadi kurang efektif dalam menyampaikan materi.
Dalam bidang komunikasi, Media Richness Theory menekankan bahwa media yang “lebih kaya”, yaitu media yang mampu menyampaikan ekspresi wajah, gerak tubuh, nada suara, dan umpan balik langsung, lebih efektif dalam menyampaikan informasi kompleks dibandingkan media yang minim unsur visual (Daft & Lengel, 1986).
Fenomena kamera mati di kelas daring mencerminkan dampak dari media yang “kurang kaya” karena mahasiswa kehilangan komunikasi nonverbal, interaksi menjadi pasif, dan suasana kelas terasa kurang hidup. Selain itu, konsep social influence menyoroti pengaruh perilaku kelompok terhadap keputusan individu dalam menggunakan media (Bidin, 2000), sehingga ketika mayoritas mahasiswa mematikan kamera, mahasiswa lain biasanya ikut bersikap pasif dan interaksi menjadi kurang efektif.
Dengan demikian, kombinasi antara kekayaan media yang rendah dan tekanan sosial menjelaskan mengapa budaya kamera mati dapat menurunkan kualitas komunikasi dalam pembelajaran daring.
Meskipun demikian, solusi untuk fenomena ini tidak harus berupa kewajiban menyalakan kamera. Setiap mahasiswa memiliki kondisi dan tingkat kenyamanan yang berbeda. Yang lebih penting adalah menciptakan suasana belajar yang membuat mahasiswa merasa aman untuk tampil.
Dosen dapat mendorong keterlibatan melalui aktivitas interaktif, seperti jajak pendapat atau diskusi ringan yang tidak formal, sehingga mahasiswa terdorong untuk berpartisipasi tanpa merasa dipaksa.
Mahasiswa pun dapat memanfaatkan fitur yang tersedia, seperti latar belakang virtual atau pengaburan latar belakang, agar lebih siap menampilkan diri di depan kamera.
Budaya kamera mati memang terlihat sepele, tetapi dapat berdampak besar pada kualitas komunikasi dalam pembelajaran daring. Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, hal ini menjadi pengingat bahwa unsur visual bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari cara kita memahami pesan dan membangun hubungan.
Tantangannya kini adalah bagaimana tetap menjaga interaksi yang manusiawi, meskipun semuanya berlangsung melalui layar. Jika dikelola dengan baik, ruang virtual tetap dapat menjadi tempat belajar yang hidup, interaktif, dan terasa dekat.



