SERANG- Plt. Kepala Bidang Prasarana Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, Saiful Bahri memberikan pemahaman kepada masyarakat terutama petani agar tidak membakar jerami padi setelah masa panen. Sebab pembakaran jerami bisa merusak kesuburan tanah, menimbulkan polusi udara hingga memusnahkan mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanah.
Saiful Bahri menyarankan sebaiknya jerami padi dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat sebagai pupuk alami, mengurangi ketergantungan pupuk kimia untuk meningkatkan hasil panen, hingga bisa dijadikan pakan ternak.
“Kita terus memberikan pemahaman terutama yang menggarap sawah di dekat jalan tol, kalau jeraminya dibakar itu bisa menimbulkan asap, polusi Alhamdulilah sekarang mereka sudah mulai paham,” ujar Saiful Bahri di kantornya, KP3B, Kota Serang, Selasa 29 Juli 2025.
“Kami meminta jangan sampai Jerami padi dibakar, tujuannya apa? Bisa untuk diolah dijadikan pakan ternak, itu kan dibutuhkan sebenarnya,” sambung dia.
Menurutnya, Jerami memiliki nilai tinggi dapat dimanfaatkan sebagai kompos alternatif yang lebih baik. Karena kompos jerami dapat meningkatkan kesuburan tanah, serta meningkatkan hasil panen.
Selain itu, lanjut dia, jerami juga bisa digunakan sebagai pakan ternak, bahan bakar alternatif dan lainnya.
Oleh sebab itu, Dinas Pertanian mengimbau agar petani memanfaatkan lahan pertanian mereka secara bijaksana terutama harus peduli terhadap kelestarian lingkungan.
“Kadang-kadang petani pengennya praktis aja dengan harga jual yang rendah mereka seringkali membakar jerami. Padahal itu ada nilai jualnya, ada harganya. Seperti di wilayah Kragilan, Ciomas jerami dari sawah mulai diambilin tuh dijadikan pakan ternak,” tuturnya.
“Saya mengingatkan jangan dibakar, karena dibakar itu bisa menimbulkan bahaya ke polusi udara, kemudian kebarakan, apalagi di sekitar jalan tol kaya di Kibin di Cikande bahaya itu,” tandasnya.



