SERANG, – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Banten mencatatkan kinerja ekonomi daerah yang solid pada periode pertengahan tahun ini. Ekonomi Provinsi Banten tumbuh sebesar 5,49 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Triwulan II 2026.
Capaian tersebut menegaskan tren positif perekonomian Banten karena berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama, yang tercatat sebesar 5,29 persen (yoy).
Kendati demikian, angka ini menunjukkan sedikit perlambatan jika dibandingkan dengan Triwulan I 2026 yang sempat menembus 5,64 persen.
Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Sofwan Kurnia dalam Taklimat Media Triwulan II 2026 dengan tema “Ekonomi Banten Tetap Solid, Prospek Pertumbuhan Terjaga” di Serang, Jumat, 7 Agustus 2026.
“Pertumbuhan ekonomi Banten yang tetap berada di atas rata-rata nasional ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan aktivitas ekonomi daerah di tengah berbagai dinamika global maupun nasional,” ujar Sofwan.
Sektor Konstruksi dan Konsumsi Pemerintah Jadi Penggerak Utama
Dari sisi lapangan usaha, geliat pembangunan menjadi pendorong utama. Sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 7,35 persen (yoy).
Pertumbuhan ini disusul oleh sektor real estat sebesar 5,31 persen, informasi dan komunikasi (5,11 persen), perdagangan (5,03 persen), serta industri pengolahan (4,87 persen).
Sementara jika dilihat dari sisi pengeluaran, daya dorong terbesar datang dari konsumsi pemerintah yang melesat hingga 16,86 persen (yoy).
Komponen penopang lainnya meliputi: Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB/Investasi) tumbuh 5,39 persen, Konsumsi Rumah Tangg tumbuh 5,09 persen, Net Ekspor tumbuh 3,47 persen.
Kontribusi Penting bagi Pulau Jawa dan Nasional
Secara kawasan, Provinsi Banten terus memegang peranan strategis. Wilayah ini menyumbang 6,67 persen terhadap total perekonomian Pulau Jawa dan berkontribusi sebesar 3,86 persen terhadap PDB nasional.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir tahun, BI Banten menekankan pentingnya sinergi dalam memperkuat empat pilar utama: konsumsi masyarakat, daya tarik investasi, keberlanjutan aktivitas industri, serta percepatan pembangunan infrastruktur daerah. (RED/FDZ)


