SERANG – Gas Elpiji 3kg dikeluhkan oleh warga lantaran ketersediaannya pada akhir minggu ini sulit di cari. Hal itu pun berdampak bagi para pedagang kaki lima yang hendak melakukan aktivitas berdagangnya dengan menggunakan gas bersubsidi tersebut.
Ketua Bidang LPG 3 Kilogram Hiswana Migas DPC Banten, Yudi Lukman mengatakan kelangkaan gas bersubsidi tersebut akibat kesadaran masyarakat yang minim. Menurutnya, masyarakat kelas menengah ke atas seharusnya tidak menggunakan gas elpiji bersubsidi agar ketersediaan tetap terjaga.
“Kesadaran masyarakat saat ini minim. Seperti kelas menengah ke atas yang masih menggunakan gas subsidi. Seharusnya ini kan hanya untuk masyarakat yang kurang mampu,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Sabtu (19/12/2020).
Ia mengatakan selain dari kesadaran masyarakat, pandemi Covid-19 pun turut menyumbang atas sulitnya gas elpiji bersubsidi tersebut. Lantaran banyak pekerja yang di PHK, dan banyak beraktivitas di rumahnya sehingga keperluan gas subsidi ini pun cukup banyak.
“Ini juga akibat dari pandemi Covid-19 ya, keperluan masyarakat semisalnya pekerja yang di PHK lebih banyak di rumah, dan menggunakan gas elpiji terus menerus,” katanya.
Ia menjelaskan, untuk harga gas elpiji 3 kilogram saat ini yang beredar di masyarakat telah naik drastis, hal itu akibat dari sulitnya untuk mendapatkan gas tersebut.
“Sebenarnya gas Elpiji 3 Kilogram ini kalo di pangkalan sekitar Rp 17.000. Namun kan ada masyarakat yang langsung membeli ke warung-warung karena lebih mudah dan dekat dengan rumah mereka, sehingga harga pun bisa naik,” tuturnya.
Ia mengatakan, dalam sehari pihaknya telah menggelontorkan gas elpiji 3 Kilogram tersebut sebanyak 120 ribu tabung. Namun menjelang Natal dan Tahun Baru ini, Pertamina telah membantu dengan menambahkan sebanyak 420 ribu tabung.
“Dari sejak tanggal 13 Desember kemarin Pertamina menggelontorkan sebanyak 420 ribu tabung dengan di bagi dalam tahapan 7 hari. Diantaranya tanggal 13,18,19,21,25,28 dan sampai tanggal 30 Desember 2020,” tukasnya. (Nahrul/red)



