Updatenews.co.id- Sejak memasuki dekade ke dua abad 21, perkembangan industry digital mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Menurut berbagai survey, tingkat penggunaan masyarakat dunia terhadap internet telah mencapai lebih dari 60 % dari seluruh penduduk dunia.
Tentunya, kondisi demikian akan membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan manusia di pelbagai bidang. Dunia menjadi amat transparant, pintu jendela negara-negara tetangga semakin terbuka. Bahkan apa saja yang dilakukan oleh manusia di kutub utara dapat diintip oleh manusia yang berada di kutub selatan.
Semua ini terjadi, akibat derasnya arus globalisasi, munculnya revolusi informasi dan tingginya lompatan tekhnologi komunikasi.
Demikian penggalan sambutan yang disampaikan oleh Ust. Syahrul Ramadhan S.Ag., M.M., selaku Ketua Umum Ikatan Dai Muda Indonesia Provinsi Banten saat menutup kegiatan Training Dai Digital Talent pada selasa 28/9/2021.
Kegiatan yang diselenggarakan di wilayah Citra Raya Kabupaten Tangerang ini, sengaja mengambil tempat di Ciril Learning Center. Disamping komitmen Ciril Indonesia yang luar bisa dalam mendukung setiap kegiatan dakwah para Dai di Banten.
Menurut Ustadz yang biasa disapa dengan Ustadz Syahdan ini, tempat dan ruangan yang disediakan oleh Cirill Indonesia sangat representative guna mendukung kegiatan pelatihan para Dai agar melek Digital.
Ruangan be-Ac, fasilitas Internet 100 Mbps hingga media pendukuung lainnya, semua dapat digunakan secara cuma-cuma oleh setiap peserta.
Dai yang sudah sering terlihat wajahnya di layar televisi ini melanjutkan, bahwa hari ini sudah semakin banyak perusahaan yang meninggalkan cara konvensional. Mulai dari operasional kerja yang terintegrasi dengan internet, otomisasi system yang banyak mengganti peran dan tenaga manusia, hingga trend kantor dan perusahaan virtual di dunia maya.
Perubahan dan kejutan-kejutan tersebut bukan hanya terjadi dalam dunia ekonomi, bahkan sudah merambah ke berbagai lini kehidupan termasuk dalam dunia dakwah dan kegiatan keagamaan.
“Hari ini, para dai dan mubaligh banyak yang telah menggantung mic dan melepas sorban. Karena langka dan minimnya kegiatan dan kajian keagamaan di Masjid-masjid, Musholla dan majelis-Majelis Taklim,” katanya.
Kegiatan PHBI lebih dari satu setengah tahun telah terhenti. Begitu juga kegiatan apapun yang melibatkan masyarakat secara massif sudah lama dilarang.
“Dakwah tidak boleh berhenti, apapun yang terjadi dakwah harus tetap jalan dan eksis!” tegasnya penuh optimis.
Menurutnya, satu-satunya jalan bagi para dai dalam menjawab tantangan Dakwah ke Depan adalah harus melek dan handal dalam dunia Digital.
“Hari ini pengunaan Webinar dan Zoom Meeting semakin tinggi, tidak menutup kemungkinan dakwah ke depan akan semakin menguat trendnya beralih ke dunia maya dan digital,” ungkapnya.
Belum lagi tantangan dan maraknya pengguna Media Sosial dan internet yang semakin meluas, semakin mendesak para Dai untuk mengisi dan ikut mewarnai dengan nuansa agama dan spiritual bagi masyarakat media social.
Bagi sebagian peserta dari para Dai dan Mubaligh yang telah mengikuti kegiatan selama dua hari ini, yakni , sejak tanggal 27 hingga 28 September 2021.
Adalah merupakan ilmu dan pengalaman baru, maka semua materi yang diberikan kepada para peserta, baik itu yang berkaitan dengan perangkat lunak pengolah kata, perangkat lunak pengolah gambar, maupun cara meng-edit video dan mengupload video, masih dalam level tingkat Dasar.
“Dua hari ini kami benar-benar mendapatkan ilmu baru khususnya dalam dunia Digital, semoga dapat membantu kami berdakwah di media social” kesan ustadzah Nina dari Tanah Merah Sepatan Kabupaten Tangerang.
“banyak sekali ilmu yang kami dapatkan selama kegiatan ini yang telah diberikan oleh para trainer, semoga bermanfaat bagi keluarga kami dan masyarakat secara luas,” harap ustadz Azis yang sudah memasuki kepala lima tapi masih punya semangat dakwah yang sangat prima.
Di hari terakhir menjelang sore, Bapak Ir. H. Firman Sukirman menyampaikan materi Cara Menciptakan Mesin Uang untuk menunjang Dakwah. Beliau menjelaskan pentingnya seorang Dai memiliki dan menguasai dunia bisnis atau usaha tertentu yang bisa menunjang kegiatan dan aktifitas spiritualnya tanpa harus mengorbankan muruah dan kewajiban dakwah.
“sudah waktunya seorang dai harus mandiri dan memilki passive income, agar tidak menggangu kegiatan dakwah dan tidak melalaikan mencari nafkah”. Tegas CEO pengusaha Air Mineral tersebut.
Hal ini sangat sejalan dengan yang disampaikan Bapak Erwin Abdurachman, ST., M.Sc selaku Ceo salah satu aplikasi berbasis internet.
“kami sudah menyiapkan wadah dan sarana digital bagi para dai yang telah ditraining selama dua hari ini untuk memanfaatkan semaksimalkan mungkin aplikasi sejenis Halo Ustadz ini, guna kepentingan dakwah sekaligus membuka peluang menunjang ekonomi para ustadz”. (Red)



