Oleh : Nama Yulianti Amalia Pahla
SERANG, – Kekerasan seksual masih sering terjadi di sekitar kita di kampus, sekolah, tempat umum, tempat kerja, bahkan di ruang-ruang yang katanya aman. Ironisnya, ketika seseorang menjadi korban, justru dia yang kerap disalahkan.
Seolah-olah merekalah yang bersalah hanya karena cara berpakaian. Padahal, tidak ada satu pun alasan yang bisa membenarkan kekerasan.
Yang lebih menyakitkan, pelaku kekerasan seksual sering kali masih bisa berkeliaran dengan bebas. Mereka bisa tertawa, berkarya, bahkan dipuja.
Sementara korban? Mereka harus menanggung luka yang tak terlihat: dihantui rasa takut, trauma yang tak kunjung sembuh, dan bisik-bisik yang menyudutkan. Lagi-lagi, seolah-olah merekalah yang salah.
Ini bukan cuma soal hukum yang belum berpihak. Ini soal budaya yang masih permisif. Budaya yang lebih cepat menutup telinga daripada mendengar.
Budaya yang lebih peduli pada nama baik daripada keselamatan. Budaya yang lebih sibuk menjaga citra daripada menyembuhkan luka.
Kita semua punya peran. Kita bisa mulai dari hal kecil: percaya pada cerita korban, berhenti menyalahkan, dan berani bersuara saat melihat ketidakadilan.
Karena perubahan tidak lahir dari diam. Perubahan lahir dari keberanian untuk melawan budaya yang membungkam.
Termasuk saat kekerasan itu terjadi di ruang digital dalam bentuk doxing, penyebaran konten intim tanpa izin, pelecehan di kolom komentar, atau ancaman lewat pesan pribadi.
Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) bukan sekadar “drama medsos”, tapi nyata melukai, membungkam, dan mengancam ruang aman perempuan di dunia maya. Maka, keberanian kita juga harus hadir di sana: untuk melindungi, membela, dan menciptakan ruang digital yang lebih manusiawi.



