UPDATENEWS.CO.ID, – Kemiskinan di Indonesia masih menjadi masalah yang belum menemukan solusi tuntas. Persoalan ini bukan hanya soal keterbatasan materi, tetapi juga kemiskinan ilmu yang terus membelenggu sebagian besar masyarakat.
Banyak anak-anak yang terpaksa menghentikan pendidikan mereka karena tidak mampu menanggung biaya, meskipun sekolah gratis telah digalakkan oleh pemerintah.
Lulusan tingkat SD atau SMP masih mendominasi angka pendidikan rendah di Indonesia, menjadikan generasi penerus tidak memiliki bekal cukup untuk memperbaiki kehidupan mereka.
Program-program seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) seharusnya menjadi jawaban atas persoalan ini, tetapi kenyataannya, distribusi yang tidak merata dan ketidaktepatan sasaran membuat banyak yang membutuhkan tetap terpinggirkan.
Dampak Pandemi COVID-19
Pandemi COVID-19 memperburuk keadaan. Ekonomi global yang melemah turut memukul Indonesia. Banyak perusahaan gulung tikar, daya beli masyarakat menurun, dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak terhindarkan.
Lapangan pekerjaan semakin sempit, sementara perusahaan yang bertahan pun sering kali membayar karyawan dengan gaji di bawah upah minimum provinsi (UMP).
Tidak hanya itu, persyaratan kerja yang tidak masuk akal—seperti harus berpenampilan menarik atau memiliki tinggi badan tertentu—menambah sulitnya masyarakat mengakses pekerjaan yang layak. Hal ini semakin memperpanjang daftar pengangguran dan memperburuk tingkat kemiskinan.
Kebutuhan Pokok Melambung, Rakyat Makin Tertekan
Kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak, dan BBM membuat masyarakat miskin semakin tertekan. Banyak dari mereka hanya mampu makan sekali sehari dengan lauk seadanya, sekadar bertahan hidup.
Bantuan sosial yang diharapkan menjadi penopang nyatanya masih sering salah sasaran dan tidak menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Solusi yang Dinanti
Meski pemerintah telah berupaya dengan berbagai program, kemiskinan tetap menjadi tantangan besar yang memerlukan solusi lebih menyeluruh.
Tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan, perlu ada penguatan dalam sektor pendidikan, penciptaan lapangan kerja, serta pengendalian harga kebutuhan pokok.
Kemiskinan bukan hanya masalah individu, melainkan persoalan kolektif yang menuntut perhatian serius dari berbagai pihak. Dengan kerja sama yang solid antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, masih ada harapan untuk Indonesia yang lebih baik di masa depan. (RED/NOV)
Nama: NOVIA PUTRI HARYANTO
Fakultas: Ekonomi Bisnis
Jurusan: Akuntansi
Universitas: Pamulang
ISU SOSIAL: KEMISKINAN



