Oleh: Rafida Aulya Rahmi Mahasiswi UIN Banten
Dunia saat ini masih mengalami keterpurukan akibat wabah Covid-19. banyak masyarakat dunia khususnya di Indonesia yang mengalami ketimpangan ekonomi yang begitu besar, beberapa karyawan ada yang di rumahkan akibat pandemi, kemudian para pengusaha mengalami penurunan drastis akibat wabah tersebut. tidak hanya itu, banyak diantara warga-warga di Indonesia yang sulit untuk mendapatkan pasok bahan makanan.
Direktur Program Pangan Dunia atau World Food Programme (WFD), David Beasley, bahkan menyebutkan bahwa sebanyak 265 juta penduduk dunia terancam kelaparan sebagai dampak dari pandemi virus corona. “Kita berbicara tentang kondisi ekstrem, status darurat tentang orang-orang yang benar-benar sedang berbaris menuju ambang kelaparan. Jika kita tidak memberikan makanan kepada orang-orang, mereka akan mati. kata Beasley seperti dilansir The Guardian. https://m.kumparan.com/kumparanbisnis/virus-corona-belum-usai-bahaya-kelaparan-mengintai-1tIgQauOs6C/full?utm_medium=post&utm_source=Facebook&utm_campaign=int
Tentu ini menjadi masalah utama, ancaman kelaparan global bagi warga dunia. Bahkan kondisi paceklik ini bisa bertambah banyak hingga 2 kali lipatnya, dan masih ada hingga 132 manusia yang terancam kelaparan. Akibat pandemi covid-19 ini juga menyebabkan anjloknya harga minyak dunia kemudian langkanya harga pangan, dan kurangnya dana bantuan. Direktur Program Pangan Dunia (WFD) David Basley mendesak kepada para pemimpin setiap negara untuk segera memberikan dana bantuan, ia juga bahkan mendesak PBB untuk segera mengambil langkah cepat guna mengusir segera pandemi ini.
Tak solutif
Namun di tengah kondisi yang mengkhawatirkan ini pemerintah khususnya Kementan beroptimis bahwa stok bahan pangan masih tercukupi untuk menghadapi pandemi ini. Dirut Perum Bulog Budi Waseso menyatakan bahwa stok beras juga aman. Bulog masih memiliki stok beras sebanyak 1,4 juta ton di gudang seluruh Indonesia dan akan bertambah karena sedang memasuki masa panen Sedang untuk memenuhi kebutuhan pangan yang tidak bisa diproduksi didalam negeri, rekomendasi Persetujuan Impor (PI) pun telah diterbitkan Kemendag.
Terkait masalah ini masih ada sejumlah pihak yang meragukan dari kesiapan pemerintah dalam menghadapi ancaman wabah covid-19 ini berupa dana bantuan. Setiap data stok bahan pangan yang mencukupi menurut pemerintah, akan tetapi berbeda ketika terjadi di lapangan yang menyebabkan melambungnya harga pangan dan kelangkaan. Kondisi ini pun telah terjadi saat ini pada beberapa komoditas seperti bawang putih, gula dan beras yang harganya meroket walaupun sebelumnya pemerintah menyebut jumlah stok mencukupi.
Sedang bantuan pangan BPNT yang disediakan pemerintah sangat tidak mencukupi bagi keluarga miskin dan rentan miskin. Diperkirakan jika dalam 1-3 bulan wabah ini tidak selesai dan pemerintah tidak menambah bantuan maka mereka akan terancam kelaparan.
Rusaknya Sistem Pertahanan dan Keamanan Kapitalisme.
Telah diketahui secara umum bahwa ketahanan dan kedaulatan pangan di negeri ini sangat lemah akibat lalainya negara mewujudkannya. Jika saat tidak terjadi wabah saja problematik pangan tidak terselesaikan, apalagi pada saat menghadapi pandemi, ketidaksiapan pemerintah makin terlihat. Apalagi sebelum wabah pandemi, setidaknya terdapat 22 juta jiwa rakyat Indonesia yang menderita kelaparan kronis serta rawan pangan yang terjadi di 88 kabupaten/kota seperti disebutkan data ADB dan Kementan.
Bisa dibayangkan kondisi ini akan lebih parah dalam kondisi wabah ketika perhatian pemerintah minim (setengah hati) sedang mereka tidak bisa bekerja. Terbukti dengan ditemukan kasus-kasus kelaparan di beberapa daerah akibat kesulitan mendapat makanan.
Inilah sejumlah gambaran lemahnya ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia yang mengancam pemenuhan pangan rakyat. Dalam keadaan normal saja, pemerintah telah abai dalam menjamin produksi, distribusi serta konsumsi, apalagi dalam kondisi pandemi.
Kelalaian ini dibayar dengan penderitaan rakyat akibat krisis pangan bahkan meninggal karena kelaparan. Dan dalam badai corona saat ini, entah berapa lagi korban akan berjatuhan tersebab pengabaian negara.
Islam Sebagai Solusi
Di tengah ketidakmampuan sistem kapitalisme neoliberal menyelamatkan manusia dari wabah, diikuti krisis multidimensi yang akan terjadi pascawabah, seharusnya makin menyadarkan kaum muslimin bahwa kita butuh sistem baru. Sistem yang akan menyelamatkan manusia dan dunia dari berbagai malapetaka, serta membawa solusi yang akan menyejahterakan. Sistem hari ini telah gagal menyejahterakan manusia, baik pada saat tanpa wabah, terlebih lagi ketika terjadi wabah. Sistem yang pernah berdiri 12 abad lebih ini, telah menunjukkan kemampuannya untuk mengatasi berbagai krisis di masanya.
Khilafah sebagai institusi pelaksana syariah Islam memiliki paradigma dan sistem yang sangat jauh berbeda dengan kapitalisme mengurusi rakyat serta menyelamatkan rakyat dari wabah. Solusi lockdown yang dijalankan Khilafah turut meminimalisasi terjadinya berbagai krisis ikutan pascawabah.
Hal ini karena penguncian total wilayah yang terkena wabah dengan segera, akan meminimalisasi penularan ke wilayah lain. Sehingga masyarakat yang berada di luar wilayah wabah tetap menjalankan aktifitasnya secara normal. Tentu ini akan mengurangi terjadinya krisis ekonomi, pangan, dsb seperti kekhawatiran dunia saat ini.
Terkait tata kelola pangan, Khilafah dengan seluruh paradigma dan konsepnya adalah sistem yang memiliki ketahanan dan kedaulatan pangan yang kuat baik di masa normal maupun menghadapi krisis.
Apalagi seandainya terjadi di Indonesia di mana negeri ini telah dianugerahi Allah SWT berbagai potensi sumber daya pertanian baik lahan subur, biodiversitas sumber pangan, iklim yang mendukung, hingga SDM petani dan para ahli. Semua potensi ini jika dikelola dengan Islam akan mampu membangun ketahanan dan kedaulatan pangan sehingga membawa kesejahteraan bagi rakyat serta akan mengeluarkan rakyat dari krisis dengan segera.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Imam (Khalifah) raa’in (pengurus hajat hidup rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya” (HR Muslim dan Ahmad).
Dalam hadis lainnya Rasulullah menegaskan, “Khalifah itu laksana perisai tempat orang-orang berperang dibelakangnya dan berlindung kepadanya….”(HR Muslim).
Dengan kedua fungsi politik ini, maka seluruh rantai pasok pangan akan dikuasai negara. Meskipun swasta boleh memiliki usaha pertanian, namun penguasaan tetap di tangan negara dan tidak boleh dialihkan kepada korporasi. Negaralah yang menguasai produksi sebagai cadangan pangan negara. Jika penguasaan negara secara penuh terhadap produksi dan stok pangan, maka negara akan leluasa melakukan intervensi dalam keadaan apa pun. Seperti ketika dilakukan lockdown, pemenuhan pangan rakyat sangat mudah dilakukan karena ketersediaan pangan dijamin penuh oleh negara
Begitu pula penguasaan stok berdampak pada stabilitas harga di pasar. Sebab distorsi pasar yang ditimbulkan oleh spekulan, mafia atau kartel disebabkan penguasaan mereka pada stok pangan melebihi stok negara sehingga leluasa mengendalikan harga. Wallahu A’llam.
Sumber bacaan
https://m.kumparan.com/kumparanbisnis/virus-corona-belum-usai-bahaya-kelaparan-mengintai-1tIgQauOs6C/full?utm_medium=post&utm_source=Facebook&utm_campaign=int
https://dunia.tempo.co/read/1334636/wfp-satu-miliar-orang-terancam-kelaparan-akibat-virus-corona
https://www.muslimahnews.com/2020/04/27/solusi-islam-atasi-krisis-pangan-di-masa-wabah/



