PANDEGLANG, – Junaiah (67) warga Kampung Kubung, Desa Mekarwangi, Kecamatan Saketi, merupakan satu dari jutaan masyarakat Indonesia yang sudah merasakan manfaat dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang merupakan program pemerintah yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Wanita kelahiran tahun 1957 silam ini telah menjadi peserta JKN dari segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBD yang iurannya dibiayai oleh Pemerintah Daerah melalui APBD.
Saat ditemui media dikediaman, wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini menceritakan perjuangan untuk terbebas dari miom hingga harus melakukan operasi sebanyak dua kali.
Untuk diketahui, miom adalah pertumbuhan sel abnormal di dalam rahim. Biasanya ditemukan pada wanita berusia 30 – 40 tahun dan biasanya dapat menyebabkan masalah infertilitas. Meski begitu, miom bisa terjadi pada wanita dengan rentang usia berapapun seperti halnya terjadi pada Junaiah yang sudah berusia 60 tahun lebih.
Operasi miom dilakukan untuk mencegah risiko komplikasi maupun masalah kesehatan lainnya akibat miom.
Junaiah mengatakan, awalnya ia sering mengeluhkan sakit pada perutnya. Ia menganggap hanya sakit biasa. Namun karena sakitnya tak kunjung sembuh, maka ia memeriksa perutnya ke RSUD Berkah Pandeglang.
Kemudian, berdasarkan pemeriksaan ternyata Junaiah mengidap miom dan harus dilakukan tindakan operasi. Atas saran dari dokter itulah, akhirnya Junaiah dilakukan tindakan operasi miom pada tahun 2019 silam.
“Untuk operasi pertama itu dilakukan di RSUD Berkah Pandeglang pada tahun 2019. Lamanya saya dirawat itu satu minggu,” tuturnya.
Kemudian, selang dua tahun Junaiah kembali mengalami gejala yang sama yakni keluhan sakit di dalam kandungan. Usai menjalani pemeriksaan, ternyata ia kembali terjangkit oleh miom dan harus menjalani operasi untuk yang kedua kalinya.
“Untuk yang operasi yang kedua saat itu saya menjalani operasi miom di RSUD Banten Serang pada tahun 2023. Saat itu saya di rawat selama 6 hari di serang,” tuturnya.
Junaiah mengaku, seluruh biaya operasi hingga berobat jalan yang ia jalani semua ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Ia bersyukur dapat menjalani pengobatan secara gratis berkat terdaftar sebagai peserta JKN.
“Untuk biaya semuanya Alhamdulillah gratis, semuanya ditanggung oleh BPJS Kesehatan ya paling hanya untuk ongkos saja. Untuk obat dan biaya operasi semuanya gratis,” ungkapnya.
Selain itu Junaiah mengatakan, meskipun dirinya hanya tercatat sebagai peserta JKN kelas tiga namun ia tidak merasakan perbedaan pelayanan dari pihak rumah sakit.
“Alhamdulillah pelayanannya baik dan tidak ada perbedaan, dilayani dengan baik seperti pasien yang lain. Tidak ada keluhan,” ujarnya.
Ditengah kesulitan ekonomi, Junaiah berharap program JKN dapat terus berjalan untuk membantu masyarakat kelas bahwan salah satunya seperti keluarganya.
Suami yang berprofesi hanya sebagai kuli serabutan tentu akan menjadi beban jika ditambah dengan pelayanan kesehatan yang sulit. Oleh karenanya, ia berharap BPJS kesehatan dapat terus eksis memberikan pelayanan kesehatan.
“Duh pak kalo gak ada BPJS Kesehatan, kita mau bayar rumah sakit dari mana? Bapaknya hanya kerja kuli serabutan, namanya di kampung susah pak cari pekerjaan. Ini kalo sakit kalo gak ada BPJS Kesehatan ripuh,” tuturnya.
Ia juga mengaku masih menghawatirkan jika kerap penyakitnya kembali datang menjangkit. Oleh karenanya itu, ia tak henti mengucapkan terimakasih kepada para peserta yang mapan karena telah rutin membayar iuran BPJS Kesehatan.
“Pokoknya terimakasih untuk yang sudah iuran, dan pemerintah, tolong program JKN jangan di hapus, kami masyarakat bawah sangat membutuhkan,” pungkasnya. (ADV)



