PANDEGLANG, — Di balik sunyinya Kampung Legok Cigadung, Kecamatan Karang Tanjung, Kabupaten Pandeglang, Banten, tersimpan jejak spiritual seorang ulama besar yang hingga kini terus diziarahi masyarakat.
Sosok itu dikenal dengan nama Ki Buyut Waja, atau dalam catatan silsilah keulamaan lokal disebut Syekh Waja al-Bantani.
Dalam tradisi Banten, gelar “Ki Buyut” merupakan bentuk penghormatan tertinggi kepada tokoh leluhur, wali lokal, atau ulama yang memiliki pengaruh spiritual kuat di tengah masyarakat.
Sementara nama “Waja”, yang secara harfiah berarti besi, diyakini sebagai simbol kekuatan batin, keteguhan iman, dan ketegaran spiritual julukan yang sejalan dengan perjalanan hidup Syekh Waja.
Ulama Pasca Runtuhnya Kesultanan Banten
Syekh Waja diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19 (1780–1820-an), pada masa Banten berada dalam tekanan kolonial Belanda pasca runtuhnya Kesultanan Banten.
Minimnya arsip tertulis pada era tersebut membuat riwayat hidupnya banyak bersumber dari cerita lisan sesepuh Cigadung, catatan haul keluarga, silsilah keramat, serta tradisi keulamaan NU Banten.
Beliau dikenal juga dengan nama Mas Muhammad Waja, berasal dari keluarga ulama lokal Banten yang memiliki hubungan sanad keilmuan dengan Syekh Abdul Jabbar Kotamanik, ulama besar Karang Tanjung yang masih memiliki garis keturunan Sunan Gunung Jati.
Rihlah Keilmuan dan Sanad Ulama Banten
Sejak kecil, Syekh Waja dididik langsung oleh ayahnya yang juga seorang alim. Ia mendalami fiqih Mazhab Syafi’i, tafsir, dan tasawuf, serta berguru melalui jalur keilmuan yang tersambung dengan ulama-ulama besar Banten, di antaranya melalui sanad Syekh Abdul Azdim Ciguludug, mursyid tarekat di kawasan Gunung Karang.
Sanad keilmuannya disebut-sebut bersambung hingga Syekh Nawawi al-Bantani, menjadikan Syekh Waja bagian dari mata rantai ulama Nusantara yang berperan besar dalam menjaga Islam tradisional di tanah Banten.
Selain menimba ilmu di tanah air, Syekh Waja juga disebut pernah berhaji dan mengaji di Mekkah, sebelum kembali ke Pandeglang untuk berdakwah dan membina umat.
Mursyid Tarekat dan Dakwah Pedesaan
Dalam kiprahnya, Syekh Waja dikenal sebagai mursyid tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah, dengan fokus utama pada dzikir, pembinaan batin, dan penguatan akhlak umat. Dakwahnya tersebar di wilayah Legok, Cigadung, Karang Tanjung, Cadasari, Pagadungan, hingga desa-desa pegunungan Pandeglang.
Ia mendirikan majelis taklim sederhana, mengajarkan kitab-kitab klasik seperti Fathul Qarib, wirid tarekat, serta nilai jihad an-nafs perjuangan melawan hawa nafsu sebagai benteng umat dari pengaruh kolonial dan sekularisme Belanda.
Berbeda dengan perlawanan fisik, Syekh Waja memilih perlawanan halus, membina kesadaran spiritual masyarakat, melindungi santri, serta memperkuat ikatan sosial antara ulama, jawara, dan petani.
Peran ini membuatnya sering disandingkan dengan tokoh keramat Karang Tanjung lainnya seperti Ki Buyut Jumanten Jaga Raksa.
Karomah Ki Buyut Waja yang Hidup dalam Ingatan Kolektif
Hingga kini, masyarakat Karang Tanjung masih meyakini berbagai karomah Syekh Waja, yang diwariskan secara turun-temurun melalui cerita haul dan majelis tarekat, di antaranya:
1. Perlindungan Desa dari Banjir Bandang, ketika wilayah sekitar dilanda bencana namun Kampung Legok tetap aman.
2. Menyelamatkan Jawara yang Luka Parah, melalui isyarat mimpi untuk meminum air rebusan daun waru yang dicampur air wudhu, hingga sang jawara pulih total.
3. Keberkahan Panen di Tengah Kemarau Panjang, dengan siraman air dari sumur majelis sambil membaca doa-doa tarekat.
4. Kesaktian Batin saat Razia Kolonial, ketika tentara Belanda melakukan razia ulama di Pandeglang. Meski suara ngaji terdengar keras dan api unggun menyala, pasukan kolonial justru melewati rumah Syekh Waja tanpa melihat apa pun. Usai kejadian, beliau berkata kepada muridnya, “Allah nutupan kita karena dzikir yang ikhlas, hati waja tidak goyah.”
Sejak peristiwa itu, Belanda disebut tak lagi berani mengganggu Cigadung, dan masyarakat meyakini kawasan makam Syekh Waja sebagai pelindung spiritual desa.
Wafat dan Jejak Spiritual yang Terjaga
Syekh Waja diperkirakan wafat pada rentang 1850–1880-an, dalam usia sekitar 60–80 tahun. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman Legok Cigadung, Karang Tanjung, dengan nisan sederhana bertuliskan huruf Arab.
Hingga kini, makam tersebut masih menjadi tempat ziarah rutin, terutama saat Maulid Nabi dan haul keluarga, seringkali berbarengan dengan haul Syekh Abdul Jabbar Kotamanik di wilayah sekitar.
Ulama Waja, Kuat dan Membumi
Jika dibandingkan dengan ulama Banten lain seperti Syekh Abdul Azdim atau Syekh Sulaiman Rozi Cikondang, karomah Syekh Waja tidak ditandai dengan kejadian spektakuler, melainkan keteguhan, perlindungan desa, dan kedekatan dengan rakyat kecil selaras dengan makna namanya, waja, kuat seperti besi.
Jejak Syekh Waja menjadi pengingat bahwa sejarah Banten tidak hanya dibangun oleh istana dan peperangan, tetapi juga oleh ulama desa yang menjaga iman, tanah, dan martabat rakyat di masa gelap kolonialisme. (MAS)



