LEBAK, – Mashuri (37) warga Rangkasbitung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten merupakan salah satu dari jutaan warga Indonesia yang telah terbantu dengan kehadiran dari program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang diselenggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Saat ditemui di kediamannya, Mashuri menceritakan pengalamannya menemani sang istri Sari Wulan Husain (43) berobat dengan bantuan program JKN-KIS. Meskipun kini sang istri telah meninggal dunia, namun ia mengaku sangat berterima kasih kepada BPJS Kesehatan yang telah banyak membantu mengobati istrinya.
Mashuri mengisahkan, tiga tahun lalu istrinya sering mengalami gangguan pada bagian hidung dan juga bagian atas saluran pernapasan. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata istri tercintanya itu mengidap karsinoma nasofaring atau kanker nasofaring. Kemudian pada tahun 2020, setelah mendapatkan perawatan Rumah Sakit Kartini Rangkasbitung, istrinya kemudian di rujuk ke Rumah Sakot Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat untuk menjalani operasi bedah nasofaring.
“Pada tanggal 26 Agustus 2020 lalu, setelah beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit Kartini, istri saya katanya harus di rujuk ke RSCM, dan disana istri saya menjalani operasi bedah nasofaring dan kemoterapi,” tuturnya.
Untuk diketahui, kanker nasofaring adalah jenis kanker tenggorokan yang terjadi pada lapisan luar nasofaring. Nasofaring merupakan salah satu bagian pada tenggorokan bagian atas yang terletak di belakang hidung dan di balik langit-langit rongga mulut. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala berupa benjolan pada tenggorokan, penglihatan kabur, hingga kesulitan membuka mulut.
Mashuri mengatakan, meskipun ia hanya terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan kelas 3, namun ia mengaku pelayanan kesehatan yang didapatkan saat menjalani pengobatan sangat bagus dan memuaskan. Ia juga mengaku, walaupun biaya operasional saat menjalani operasi di RSCM cukup besar, namun untuk biaya operasi nasofaring itu sendiri tidak dipungut biaya sepeserpun.
“Ya walaupun biaya operasional disana (RSCM-red) sangat besar, tapi untuk biaya operasi itu sendiri semuanya gratis. Saya tidak membayangkan kalau harus bayar, bisa-bisa bangkrut mungkin,” ujar Mashuri yang berprofesi sebagai pedagang.
Ia menambahkan, meskipun setelah menjalani operasi istrinya harus kembali kepada yang maha kuasa, namun ia mengaku ikhlas. Kendati demikian, ia sangat berterimakasih kepada BPJS Kesehatan yang telah membantunya berikhtiar melawan penyakit yang diderita istrinya saat masih hidup.
Ia berharap, BPJS Kesehatan dapat terus eksis dan memberikan manfaat kepada masyarakat khususnya masyarakat kalangan bawah yang sangat membutuhkan bantuan pelayanan kesehatan. Ia juga berharap BPJS Kesehatan dapat terus meningkatkan dan mempertahankan pelayanan yang sudah baik.
“Saya ucapkan terimakasih, semoga pelayanan yang sangat bagus dapat dipertahankan. Semoga dapat terus bermanfaat bagi masyarakat yang tidak mampu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan seperti keluarga saya ini,” tandasnya. (Adv)



