SERANG – Transisi peralihan kewenangan penambangan pengerukan tanah alias galian C yang sepenuhnya dimiliki provinsi Banten menuai masalah, pasalnya galian C semakin menjamur tersebar di penjuru Banten termasuk Kabupaten Serang
Akibatnya, dampak lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas galia C semakin menjadi dan terus disoal lantaran mengancam keselamatan dan kesehatan warga.
Aktivis Bojonegara-Puloampel Ari Dailami mengatakan persoalan Galian C dapat mengganggu keselamatan warga selain akan menyebabkan longso pun kesehatan warga dipastikan terancam.
Kata Ari, IKMBP sering mengkritisi pemerintah agar meninjau ulang keberadaan galian C, namun, menurutnya sikap pemerintah terkesan membiarkan galian C tersebut.
“Kami prihatin adanya galian C itu menyalahi prosedur dan mengganggu keselamatan warga,” ucapnya kepada awak media saat dikonfirmasi, Rabu (2/9/2020)
Smentara berbeda sikap, Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Serang Haerudin menilai pencemaran lingkungan yang ditimbulkan dari pengerukan tanah atau galian C di Bojonegara masih wajar karena dampak positif yang ditimbulkan lebih banyak.
“Kemajuan suatu daerah itu pasti dampak negatifnya bising, berdebu itu semua untuk kemajuan suatu daerah, jadi kalau daerahnya aman, tenang berarti kan bukan maju,” katanya.
Dewan yang berasal dari daerah pemilihan (Dapil) Bojonegara itu mendukung sepenuhnya galian C serta berdirinya pabri-pabrik di Bojonegara karena akan menggerakan roda ekonomi masyarakat.
“Adanya pabrik memberikan sumbangsih terhadap tega kerja, apalagi saat ini kan kesulitan, artinya roda perekonomian bisa digerakan lewat perusahaan-perusahaan yang ada disitu (bojonegara) jadi, bukan karyawanya saja pedagangnya pun juga bisa berjalan,” katanya.
Jika ada kelompok yang masih menolak, Sambung Haerudin merupakan dinamika yang tidak dapat dihindarkan, nyatanya, menurutnya sampai saat ini Bojonegara masih aman tidak ada pencemaran.
“Jadi, untuk sementara ini Bojonegara-pulaoampel masih aman,” ungkapnya.
Dengan banyaknya Pabrik, lanjut Haerudin penyerapan tega kerja lokal di bojonegara terus meningkat. Diakuinya, sekitar 60 persen masyarakat sudah mendapatkan hak pekerjaan.
“Tenaga kerja 60 persenya dari lokal, sedangkan 40 persen dari luar, yang dari luar itu hanya tenaga-tenaga ahli saja, untuk tenaga kasar, non skil itu ya dari pribumi yang diutamakan,” tandasnya.(Jen/red)



