SERANG – Wisata religi Banten Lama yang berada di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang merupakan tempat yang dinilai memiliki sejarah tinggi dan mitos yang kental. Jutaan manusia dari berbagai pelosok Nusantara yang mengunjungi tempat tersebut bukan saja sebatas untuk berwisata dan mempelajari sejarah kerajaan Banten, melainkan juga banyak yang mempercayai adanya tuah di beberapa tempat dan benda di Kawasan Banten Lama itu.
Untuk mengetahui lebih dalam tentang sejarah dan mitos yang hingga kini masih bertahan dan sebagai magnet para wisatawan, wartawan mengunjungi kediaman Ketua Umum Lembaga Pemangku Adat Kesulthanan Banten, H. Tb. Ahmad Abbas Wasee yang berada di belakang mesjid agung Banten lama.
Dirinya menceritakan bahwa sekitar tahun1808 silam saat dihapuskannya kesultanan keraton Surosowan dan Masjid Banten ditinggalkan penghuninya dan menjadi hutan belantara dan semak-belukar. Kemudian setelah masyarakat melakukan pembersihan tahun 1942-1943. Hingga saat ini kawasan banten lama selalu ramai dikunjungi kecuali bulan Ramadhan. “Masyarakat ramai di Bulan Maulid, Hari Raya idulfitri, idul adha, dan menjelang Ramadhan. Selain itu Sementara itu untuk di Bulan Ramadhan sepi,” ujarnya kepada wartawan.
Ia melanjutkan, masyarakat juga banyak mengunjungi kawasan Banten lama untuk berjiarah pada malam jumat, serta malam ke jumat ke 14 (malam jumat kliwon). Menurutnya, banyaknya pejiarah di lama ini karena yakini pada malam itu adanya napak tilas para sultan terdahulu.
Ia mengungkapkan, selain makam para sultan yang menjadi magnet para penjiarah salah satunya yakni makam Sultan Maulana Hasanudin, ada juga beberapa tempat lainnya yang ramai dikunjungi dan dinilai memiliki nilai mitos yang masih kental diantaranya, Menara Masjid Agung Banten Lama, Air Zam-zam Banten, dan Kolam pemandian di Keraton surosoan.
“Malam Jumat ke 14 sangat ramai bahkan sampai pagi. Karena diyakini malam itu ada napak tilas (sultan). Air zam-zam kami menyebutnya itu pernah di bawa kelaboratorium dan jernih dan bisa langsung di minum. Sejarahnya dulu sultan haji bersembunyi di bawah tanah kemudian saat keluar timbul lah air zam-zam itu. Tidak pernah kering. Ada Kolam pemandian di Keraton Surosoan itu juga dipergunakan juga oleh para peziarah. Tempat itu dulunya tempat mandi puteri Sultan. Katanya jika mandi di kolam itu bias awet muda. Sekarang sudah di tutup oleh pengelola cagar budaya,” kisahnya.
Ia juga menceritakan, semasa kecil di surosoan ada sebuah terowongan yang konon trowongan itu bisa tembus ke makah. Kemudian hal menarik lainnya yaitu jumlah tangga di menara mesjid agung. Karena jika ada tiga orang yang berbarengan menaiki tanga menara tersebut dan menghitungnya. Maka dipercayai jumlah tersebut tidak akan sama. “Sok pasti tidak sama. Ya namanya juga buatan wali. Ada juga meriam ki amuk, konon siapa-siapa yang bisa memeluk meriam katanya akan cepet naik haji (hajatnya di Kabul). Karena pernah ada. Dan tangan panjang juga tidak menjamin. Itu mungkin karena hakikat itu dari Allah, ” tuturnya.
Ia juga menegaskan, ketika berada di Kawasan Banten Lama tidak boleh berbicara dan bertindak sembarangan. Karena siap saja bisa kwalat termasuk keturunan sultan. “Jangan sembarangan bisa kwalat. Di kita keturunannya juga ada yang kwalat,” tukasnya. (US/red.



