PANDEGLANG, —Luar biasa salah satu desa yang ada di Provinsi Banten menerima Apresiasi Desa Budaya 2025 dari pemerintah pusat, yaitu Kementerian Kebudayaan. Ya, Desa Cibaliung Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, dari 150 desa yang meraih Apresiasi Desa Budaya 2025.
Desa Cibaliung dinilai sebagai salah satu dari lima desa terbaik secara secara aktif merawat, menjagwa tradisi budaya dan juga mengaspirasikan diri melalui berbagai inisiatif pelestarian kearifan lokal dan ekologis.
Desa Cibaliung dinilai berkomitman menjaga desa-desa dalam pelestarian kebudayaan, dengan berbagai kegiatan seperti menampilkan tarian adat, seni, serta makanan dan kerajinan lokal, menjadi wadah edukasi pemuda, mendorong ekonomi kreatif, serta memperkuat identitas budaya.
Terlebih desa budaya di dorong oleh kekayaan potensi lokalnya, terutama sebagai sentra penghasil gula aren di Pandeglang, dan kearifan lokal yang melekat dalam hubungan manusia dengan alam.
Dengan kegiatan Festival Aren Musang, yaitu acara tahunan merupakan wujud nyata dari upaya melestarikan budaya aren dan ekologi di Cibaliung.
Adapula pagelaran pesta rakyat Cibaliung yang menampilkan pagelaran seni dan budaya tradisional khas Banten, seperti debus dan tari-tarian, yang bertujuan memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda dan wisatawan, sekaligus menjadi katalisator ekonomi lokal dan ketidak ketinggalan yaitu Kearifan Lokal dan Ekologis, yang ter fokus pada kearifan lokal, seperti hubungan antara manusia dan alam dalam pertanian, menjadi inti dari gerakan desa budaya ini, menekankan pentingnya menjaga nira dan menyuburkan harapan desa.
“Tentunya saya berterima kasih kepada pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Kebudayaan yang telah memberikan amanah dan tangung jawab atas penghargaan sebagai lima penerima Aspirasi Desa Budaya di tahun 2025,” tegas Kepada Desa Cibaliung, Empud Nahrowi.
Atas apresiasi yang di raih, dirinya sebagai Kepala Desa akan terus berkomitmen menjaga dan merawat Desa Cibaliung sebagai desa wisata dan budaya.
“Penghargaan ini menjadi pengakuan atas praktik kebudayaan yang terus dirawat secara berkelanjutan, mulai dari tradisi, pengetahuan lokal, hingga ruang hidup sosial yang tumbuh dari semangat gotong royong,” ujarnya.
“Apresiasi Desa Budaya sebagai pemicu semangat untuk terus melindungi, mengembangkan, membina, dan memanfaatkan kebudayaan Desa Cibaliung sebagai sumber daya identitas dan masa depan, khususnya bagi generasi masa akan datang,” tegasnya.
Budaya Identitas Bangsa
Seperti ketahui Apresiasi Desa Budaya 2025 usai adalah puncak program dari Pemajuan Kebudayaan Desa, tak lain program utama dari Kementerian Kebudayaan.
Kementerian Kebudayaan menilai penting menjaga dan merawat budaya karena sebagai identitas bangsa, dan juga modal strategis pembangunan.
Program Pemajuan Kebudayaan Desa, yang merupakan platform kerja bersama membangun desa mandiri melalui peningkatan ketahanan budaya dan kontribusi budaya desa di tengah peradaban dunia. Program ini merupakan salah satu program prioritas Kementerian Kebudayaan.
Program tersebut sejalan dengan visi dan arah pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam penguatan ketahanan nasional yang berakar pada kemandirian rakyat Desa
Apresiasi Desa Budaya yang diselenggarakan Direktorat Bina Sumber Daya Manusia Lembaga dan Pranata Kebudayaan Direktorat Jenderal Pengembangan Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan berlangsung dengan sukses dan lancar.
Ada 150 desa terseleksi dan menjadi 30 besar, hingga merucut 10 besar dan menjadi lima besar yang meraih Aspirasi Desa Budaya 2025. Diantaranya :
- Desa Cibaliung, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Banten
- Desa Duarato, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur
- Desa Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, Aceh
- Desa Tanjung Isuy, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur
- Desa Tebat Patah, Kecamatan Taman Rajo. Kabupaten Muaro Jambi, Jambi
Apresiasi diberikan kepada desa-desa yang berhasil mengelola kebudayaan sebagai sistem hidup yang berdampak sosial, ekologis, dan ekonomi.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program Pemajuan Kebudayaan Desa, sebuah inisiatif strategis yang bermaksud untuk menegaskan desa sebagai fondasi dan jantung kebudayaan nasional.
Apresias Desa Budaya 2025 mengangkat tema tentang ketahanan pangan, kehidupan berkelanjutan, pelestarian lingkungan, serta pemanfaatan energi terbarukan berbasis kearifan lokal, yang mencerminkan nilai-nilai kemandirian, keberlanjutan, dan keberpihakan pada kekuatan lokal.
Ada pula sistem pertanian tradisional, pengelolaan sumber daya alam berbasis adat, hingga pengetahuan lokal tentang energi dan lingkungan menjadi bukti bahwa desa mampu menawarkan solusi konkret atas tantangan global melalui pendekatan budaya.
Apresiasi Desa Budaya tidak hanya menjadi kegiatan penghargaan kebudayaan, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat desa sebagai fondasi ketahanan pangan, ketahanan ekologis, dan ketahanan sosial bangsa, yang selaras dengan agenda besar pembangunan nasional yang berdaulat, berkelanjutan, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Terlebih penilain yang dilakukan dengan proses secara komprehensif melalui tahapan temu-kenali, pendalaman, dan aktivasi. Aspek yang dinilai meliputi komitmen kebijakan desa, keterlibatan aktif seluruh warga, termasuk perempuan, anak, generasi muda, dan penyandang disabilitas, serta pengembangan ekonomi berbasis budaya dan dampak sosial yang nyata.
Untuk dewan juri melibatkan dewan juri lintas disiplin yang terdiri dari akademisi, budayawan, praktisi, jurnalis, dan unsur pemangku kebijakan.
Kehadiran juri lintas latar belakang ini memastikan bahwa desa-desa penerima apresiasi benar-benar merepresentasikan praktik baik pemajuan kebudayaan yang kontekstual, partisipatif, dan berkelanjutan.
Desa Hadapi Modernisasi
Seperti dikatakan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, bahwa desa memiliki posisi sentral dalam membentuk identitas dan karakter bangsa Indonesia.
“Desa-desa budaya adalah jantung dari identitas kebudayaan Indonesia. Di desa-desa inilah tradisi, adat istiadat, seni, dan kearifan lokal hidup dan berkembang. Budaya bukan sekadar simbol, tetapi merupakan kekuatan hidup yang menyatukan, menginspirasi, dan membangun karakter bangsa,” ujar Fadli Zon.
Disamping itu pula Fadli Zon menekankan bahwa di tengah arus modernisasi dan globalisasi, desa budaya berperan sebagai benteng peradaban sekaligus ruang inovasi berbasis nilai-nilai lokal.
Menurutnya, penguatan desa budaya hanya dapat tercapai melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan & Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, menjelaskan bahwa Pemajuan Kebudayaan Desa merupakan program yang telah dilaksanakan sejak 2021 dan telah menyentuh lebih dari 500 desa di seluruh Indonesia sebagai bentuk pengakuan negara atas kerja panjang masyarakat desa.
“Desa adalah akar kehidupan budaya bangsa dan dapat dipandang sebagai museum hidup, tempat nilai-nilai budaya komunal menjadi dasar kehidupan masyarakat. Mengembangkan dan melestarikan budaya desa sebagai laboratorium hidup semestinya menjadi prioritas dalam pemajuan kebudayaan nasional,” jelas Ahmad Mahendra.
Disamping itu pula Daya Desa Cibaliung Rizal Mahfud mengatakan, ada proses Panjang yang akhirnya mengantarkan pihaknya bisa terpilih dalam kegiatan tersebut. Dari 300 desa yang diseleksi secara nasional pada 2023, jumlahnya mengerucut hingga 150 desa pada 2024–2025, lalu kembali disaring menjadi 60 desa. Sebanyak 30 desa mengikuti tahap wawancara kurator.
“Cibaliung menjadi salah satu yang lolos karena kekuatan potensi lokal yang konsisten dijaga masyarakat,” katanya, saat dihubungi, kemarin.
Ia mengatakan, menonjolkan pertanian aren dan pengetahuan tradisional yang masih hidup. Warga tidak hanya menampilkan pertunjukan budaya, tetapi juga memperlihatkan aktivitas keseharian.
Mereka membuat lagu yang relevan bagi anak muda, memproduksi film dokumenter, menggelar diskusi, serta melibatkan anak-anak dalam berbagai kegiatan budaya.
“Di sini peran perempuan juga terlihat kuat. Para ibu diarahkan mengolah gula aren menjadi makanan olahan. Produk tersebut kemudian dijual saat festival, sehingga budaya sekaligus memberi nilai ekonomi bagi warga,” katanya.
Rizal menjelaskan, Festival Aren Musang menjadi ikon utama. Festival ini lahir dari kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam. Warga memiliki adat tidak menggarap seluruh tandan buah aren dalam satu pohon.
Sebagian dibiarkan sebagai jatah musang untuk menjaga regenerasi pohon aren. Tradisi ini juga menjaga habitat musang yang hidup di pohon aren dan berperan dalam penyebaran benih
Aren dipandang sebagai sumber kehidupan
Akar menahan dan menyimpan air. Pucuk menjadi ruang hidup satwa. Nira diolah menjadi gula aren yang menopang ekonomi warga. Proses pengambilan nira dilakukan dengan ritual sederhana, termasuk lantunan kidung tradisional yang sarat makna.
“Kearifan budaya itu yang kita tonjolkan dan alhamdullilah desa kami masuk lima besar festival budaya 2025,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan soal dukungan desa, seperti mengadakan festival yang menjadi ruang rindu bagi warga desa dan masyarakat kota. Aktivitas kampung dari pagi hari, seperti proses membuat gula aren dan tradisi nyadak, kini dipublikasikan lebih luas.
Kegiatan edukasi dilakukan dengan melibatkan sekolah, kampus, dan mahasiswa sebagai penggerak promosi budaya yang efektif.
Acara puncak Apresiasi Desa Budaya 2025 akan berlangsung di bulan Februari 2026 di Kabupaten Samosir Sumatera Utara, yang rencana langsung di hadiri Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Seperti kita ketahui Apresiasi Desa Budaya 2025.
Melalui Apresiasi Desa Budaya, Kementerian Kebudayaan berharap tumbuh kesadaran kolektif bahwa kebudayaan desa bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan modal hidup untuk memperkuat daya tahan masyarakat, membangun kemandirian, serta merawat keberagaman Indonesia dari desa. ***



