JAKARTA – Paris de la Mode Fashion School sertakan murid-muridnya dalam sebuah pertunjukan fesyen Indocraft ke-17 dengan tema “The Craftman of Indonesia”, bertempat di Cendrawasih Room Jakarta Convention Center (JCC) Senayan Jakarta, Sabtu (14/03/2020)
Kegiatan tersebut terbilang sukses, Paris de la Mode Fashion School berhasil menampilkan hasil karya murid-muridnya dalam acara tersebut.
Ketua Indonesia Ethnic Designer Community (IEDC) Raizal Buyung Rais mengatakan, bentuk apresiasi dalam bentuk pemberian Mo.De.S Award hanya diberikan pada orang-orang tertentu saja tiap tahunnya. Terlebih, ia menjelaskan bahwa bukan hanya busana Muslim yang dibutuhkan, melainkan busana yang sopan bagi semua orang.
“Tujuan diadakannya Mo.De.S Award ini juga untuk memajukan para designer muda, agar dapat lebih berkreasi dalam merancang sebuah karyanya masing-masing. Dan kita tekankan kepada desainer itu untuk menerapkan 50 persen Seni dan 50 persen Bisnis, tidak boleh lebih salahsatunya maka kita akan sukses,” ungkap Buyung, Sabtu (14/03/2020).
Pertunjukan fesyen Indocraft juga mengadakan undian hadiah berupa sebuah mesin jahit kepada satu orang, dan akan diberikan oleh Paris De La Mode Fashion School.
Lima orang murid Paris De La Mode yang menampilkan karyanya yaitu, Erra Kyra, Amalia Effendi, Leedy Diana, Jean Ong, dan Michelle. Mereka menampilkan rancangan busana yang berbeda-beda dari bahan maupun desainnya.

Salah satu murid Paris de la Mode Fashion School Michelle dengan karyanya yang bertajuk New Born of Abstractive Casual and Subahnale coba menyatukan 3 elemen seperti Jeans, Kain Tenun Subahnale, dan abstract art yang dibuat secara handmade.
Selain itu, Jean Ong mengusung ide dengan menggunakan bahan Selendang, di mana bentuk dari selendang dapat dibawa kemanapun kita pergi, dan sesuai dengan keinginan kita.
Tidak hanya itu, Erra Kyra mengusung ide Street Style Urban. Ia melakukan kombinasi dengan Tradisional tenun songket Jeans Fashion Designer, Songket Tenun Melayu Silver, Jeans, Jeans Denim, Black Skin Synthetic, Organza, dan Satin.
Instruktur Patternmaking Class Paris de la Mode Herni Herawati mengatakan, pihaknya turut berkontribusi dalam pengembangan seni fusion sebagai perpaduan fesyen tradisional dan modern.
“Iya, perpaduan antara produk etnik atau tradisional yang menjadi gaya baru, itu memang sedang in,” ucapnya.
Ia berharap, murid-murid Paris de la Mode Fashion School mampu berproduksi dan berinovasi dalam dunia fesyen, baik di Indonesia maupun di kancah internasional. Terlebih, setiap hasil karya murid-muridnya dapat diterima di masyarakat.
“Para student diharapkan menjadi student yang aktif, kreatif, produkti dan inovatif dalam dunia fesyen Indonesia dan dapat diterima masyarakat luas, juga dapat berkiprah dalam kancah internasional,” pungkasnya. (Gilang/Red)



