UPDATENEWS.CO.ID, — Peci atau kopiah hitam yang kini identik dengan Indonesia ternyata bukan berasal dari tradisi asli Nusantara. Penutup kepala ini memiliki akar sejarah panjang dari peradaban Islam dan wilayah Timur Tengah, Afrika Utara, hingga Turki Usmani, sebelum akhirnya diadopsi dan dimaknai ulang oleh masyarakat Indonesia.
Peci atau kopiah adalah penutup kepala berbentuk silinder atau setengah oval tanpa pinggiran. Dalam literatur sejarah, benda ini tidak memiliki satu nama universal, melainkan dikenal dengan berbagai istilah sesuai wilayah dan budaya, seperti taqiyah, kufi, chechia, dan fez.
Asal-Usul Awal Penutup Kepala
Penggunaan penutup kepala telah dikenal sejak peradaban kuno. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa masyarakat Mesopotamia, Mesir Kuno, dan Persia telah menggunakan penutup kepala sebagai perlindungan dari panas, simbol status sosial, serta bagian dari ritual keagamaan.
Namun, bentuk kopiah sederhana tanpa pinggiran berkembang secara khusus di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, wilayah dengan iklim panas dan tradisi berpakaian yang menekankan kesopanan.
Perkembangan dalam Peradaban Islam
Setelah munculnya Islam pada abad ke-7 M, penutup kepala menjadi bagian dari norma berpakaian masyarakat Muslim. Kopiah tidak diwajibkan secara teologis, tetapi digunakan sebagai bagian dari adab dan tradisi.
Pada masa Kekhalifahan Umayyah (661–750 M) dan Abbasiyah (750–1258 M), kopiah menjadi penutup kepala yang umum di kalangan ulama, ilmuwan, dan masyarakat perkotaan. Dalam periode ini, kopiah berkembang dalam berbagai bentuk dan bahan, disesuaikan dengan kondisi geografis dan budaya lokal.
Fez sebagai Bentuk Standar Modern
Bentuk peci modern memiliki hubungan erat dengan fez, penutup kepala khas Kekaisaran Ottoman. Fez dinamai dari kota Fez di Maroko, pusat produksi pewarna merah alami pada abad pertengahan.
Fez mulai distandarisasi pada awal abad ke-19, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Mahmud II (1808–1839). Dalam reformasi administrasi dan militer Ottoman, fez dijadikan penutup kepala resmi untuk menggantikan sorban yang menunjukkan perbedaan kelas dan jabatan.
Dari Ottoman, fez menyebar ke wilayah:
Balkan
Timur Tengah
Afrika Utara
Asia Selatan
Asia Tenggara
Di Asia Tenggara, termasuk Nusantara, kopiah masuk melalui:
1. Jalur perdagangan antara Arab, Persia, India, dan Asia Tenggara
2. Jalur pendidikan Islam, terutama melalui pesantren dan madrasah
3. Jalur dakwah, dibawa oleh ulama dan jamaah haji
Bentuk kopiah kemudian mengalami penyederhanaan. Warna hitam menjadi dominan karena praktis, tahan lama, dan mudah diproduksi secara lokal.
Adaptasi Lokal tanpa Klaim Asal
Secara historis, tidak ditemukan bukti bahwa peci berasal dari budaya asli Nusantara sebelum masuknya Islam. Penutup kepala tradisional Nusantara seperti blangkon, iket, dan destar memiliki struktur, filos
Masuk ke Nusantara melalui Jalur Islam
Peci masuk ke Nusantara bukan melalui tradisi lokal, melainkan melalui jalur dakwah Islam, perdagangan, dan pendidikan. Para ulama, santri, dan pedagang Muslim dari Arab, Gujarat, dan Turki membawa tradisi berpakaian Islam, termasuk kopiah.
Awalnya, kopiah digunakan di lingkungan pesantren dan komunitas Muslim sebagai simbol religius. Masyarakat Nusantara kemudian mengadaptasinya, baik dari segi bahan maupun bentuk, hingga lahirlah peci hitam polos yang lebih sederhana dan praktis.
Bung Karno dan Transformasi Makna Peci
Meski bukan berasal dari Nusantara, peci justru menemukan identitas barunya di Indonesia. Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, memainkan peran kunci dalam transformasi makna peci.
Bung Karno sengaja mengenakan peci hitam sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme Barat. Menurutnya, peci adalah penutup kepala rakyat biasa yang mampu menyatukan berbagai golongan, agama, dan suku. Sejak saat itu, peci berubah dari simbol keagamaan menjadi simbol nasionalisme Indonesia.
Peci: Produk Global yang Diindonesiakan
Dalam kajian sejarah budaya, peci dapat disebut sebagai produk global yang diindonesiakan. Ia bukan warisan asli budaya Nusantara seperti blangkon atau iket, tetapi telah melewati proses akulturasi yang panjang.
Indonesia bukan pencipta peci, namun berhasil memberi makna baru yang kuat, bahkan menjadikannya ikon nasional yang dikenal dunia.
Sejarah membuktikan bahwa peci atau kopiah hitam bukan tradisi asli Nusantara, melainkan berasal dari peradaban Islam global yang berkembang di Timur Tengah dan Turki. Meski demikian, Indonesia berhasil mengangkat peci menjadi simbol persatuan, kesederhanaan, dan identitas nasional. ***



