TANGSEL – Tak jarang musisi dunia merekap kisah pergelutan mereka. Begitu juga percikan anomali yang dibuat oleh duo indie, Endah ‘N Rhesa. Keduanya berkisah tentang pergelutannya dalam sebuah buku yang diberi tajuk I’m All EAR’S.
Endah ‘N Rhesa digawangi oleh Endah Widiastuti dan suaminya Rhesa Aditya. Dengan dibantu Eko Wustuk sebagai penulis buku I’m All EAR’S, sepasang musisi asal Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel) ini mencoba mengajak para audiens menyimak kisah 15 tahun perjalanan karir keduanya.
Endah menjelaskan bagaimana I’m All EAR’S merekam jejak keduanya, mulai dari penentuan pilihan hingga konflik yang terjadi di tengah keduanya. Unsur-unsur tersebut dinilai sebagai penentu arah dan jalannya Endah ‘N Rhesa.
“Ini tentang bagaimana kami melalui dan mengambil keputusan-keputusan yang cukup krusial dan menentukan perjalanan kami hingga sekarang. Juga ada beberapa konflik yang terjadi di dalam studio,” jelas Endah pada wartawan Updatenews.co.id, Sabtu (22/02/2020).
Ia juga mengungkapkan bagaimana tantangan yang Endah ‘N Rhesa hadapi. Tantangan tersebut yakni, penentuan antara keputusan karir atau pelaminan, pencabutan sponsor, membangun kafe, hingga perjalanan tur album di 2019.
“Mukai dari pilihan membeli perangkat rekam atau menikah dahulu, hampir batal pergi ke luar negeri karena tiba-tiba ada dukungan sponsor yang dicabut, cerita membangun kafe Earhouse di Pamulang, hingga catatan perjalanan saat tur album Regenerate tahun 2019 lalu,” paparnya.
Tidak hanya tentang tantangan yang Endah paparkan. Namun, selaku salah satu tokoh utama dalam buku ini, ia mengatakan jika hanya sedikit buku tersebut mengisahkan percintaan antara dirinya dan Rhesa.
“Yang menarik adalah bagaimana kami, baik sebagai pasangan kekasih maupun partner bermusik, tetap bisa menjalankan Endah N Rhesa hingga 15 tahun belakangan ini,” tuturnya.
Dibalik kisah yang dilalui Endah ‘N Rhesa, ternyata ada nama bassis handal, Victor Wooten yang mempengaruhi keduanya untuk melangsungkan karir. Menurut Endah, Victor Wooten merupakan musisi yang memiliki kepribadian dan karakter menarik, baik hati edukator handal, dan sering membagi buah pikirnya pada keseimbangan yin-yang.
Dalam rangkuman kisah Endah ‘N Rhesa, Endah mengatakan ada beberapa soko pembelajaran dalam buku I’m All EAR’S. Mulai dari konsistensi hingga eksitensi dalam menjalankan sebuah karir. Terlebih, buku tersebut bisa mengumpulkan dokumentasi-dokumentasi Endah ‘N Rhesa yang sudah tercecer.
“Penting sekali mengkomunikasikan misi-visi di awal terbentuknya Endah N Rhesa, mau kemana arah kapal ini berlayar dan berlabuh, kemudian pentingnya menjaga konsistensi dan eksistensi” ungkapnya.
“Melalui buku ini kami bisa melihat kembali jejak yang sudah kami buat selama 15 tahun berkarir,” imbuhnya.
Dalam kurun waktu dua bulan, buku I’m All EAR’S telah terjual sebanya 200 eksemplar. (Gilang/Red)



