SERANG, – Di sudut sebuah lokakarya sederhana, aroma khas kain goni berpadu hangat dengan benang-benang tenun tradisional penuh warna. Di tangan para pengrajin lokal binaan PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Banten, lembaran karung goni yang selama ini kerap dianggap limbah pelabuhan perlahan berubah menjadi produk kriya bernilai tinggi. Melalui sentuhan kreatif FASHTERS, sebuah eco-brand lokal binaan PLN UID Banten, limbah tersebut disulap menjadi tas jinjing modis dan berbagai produk eco-stylish yang memikat mata.
Kolaborasi hijau ini hadir sebagai jawaban atas persoalan lingkungan yang selama ini luput dari perhatian publik. Indonesia diperkirakan menghasilkan sekitar 1.500 ton limbah goni setiap tahunnya. Melihat potret tersebut, Nurkamala, pendiri FASHTERS, memilih mengambil langkah berani dengan mengubah limbah menjadi peluang ekonomi kreatif yang berdampak sosial.
Setelah 15 tahun berkarier di industri pembiayaan, Nurkamala memutuskan melakukan perubahan besar dalam hidupnya. Berbekal sertifikasi kompetensi BNSP di bidang menjahit dan digital marketing, ia mendirikan FASHTERS pada Desember 2023 dengan visi menghadirkan produk fesyen ramah lingkungan yang tetap elegan dan berkelas.
“FASHTERS bukan sekadar bisnis produk kriya, ini adalah sebuah gerakan. Kami menyatukan gaya hidup berkelanjutan, warisan budaya, inovasi desain, dan dampak sosial nyata. Kami ingin membuktikan bahwa produk ramah lingkungan juga bisa tampil stylish dan berkelas,” ujar Nurkamala.
Di tengah tren green lifestyle yang kini semakin diminati masyarakat urban Indonesia, FASHTERS hadir mengisi ruang antara fungsi, estetika, dan kepedulian terhadap lingkungan. Keunikan produknya terletak pada perpaduan serat goni yang bertekstur kuat dengan kain tenun tradisional Nusantara, seperti Tenun Baduy khas Banten hingga ragam tenun daerah lainnya, lengkap dengan sentuhan bordir artistik yang mempercantik setiap detail produk.
Setiap karya FASHTERS hadir sebagai produk eksklusif dengan cerita budaya yang berbeda. Tidak ada produk yang benar-benar sama, karena setiap lembar kain membawa identitas daerah asalnya masing-masing.
Lebih dari sekadar memproduksi barang eco-stylish, FASHTERS juga membangun fondasi kuat pada pemberdayaan sosial. Seluruh proses produksi melibatkan pengrajin lokal yang mendapatkan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan, sekaligus apresiasi terhadap keterampilan seni yang mereka miliki.
General Manager PLN UID Banten, Muhammad Joharifin, menegaskan bahwa dukungan terhadap FASHTERS merupakan bagian dari komitmen PLN dalam mendorong ekonomi hijau dan pemberdayaan UMKM lokal.
“Langkah ini sejalan dengan komitmen PLN dalam menggalakkan green lifestyle dan mendukung transisi energi menuju masa depan yang lebih bersih. PLN tidak hanya fokus menyediakan listrik andal, tetapi juga berkomitmen mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan melalui pembinaan UMKM lokal. Kami percaya sinergi bersama pelaku usaha eco-stylish seperti FASHTERS dapat membantu pengrajin lokal naik kelas sekaligus menciptakan dampak lingkungan yang berkelanjutan,” ujar Joharifin.
Pasar produk kriya bernuansa eco-friendly dan homemade memang terus berkembang di Indonesia. Konsumen kini tidak hanya membeli produk karena fungsi, tetapi juga karena nilai dan cerita yang terkandung di balik proses pembuatannya.
Melalui lembaran goni dan helaian benang tenun, FASHTERS tengah mengirimkan pesan kuat bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari apa yang kita kenakan. Di saat yang sama, warisan budaya lokal tetap dapat hidup, berkembang, dan menjadi bagian dari solusi masa depan lingkungan Indonesia.



