PANDEGLANG, – Menjadi pengasuh di sebuh pondok pesantren (ponpes) salafi bagi Ustadz Nana Karnawi (33) warga Kampung Gondolong, RT/RW 06/02 , Desa Mandala Sari, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, merupakan sebuah amanah dan jalan hidup untuk menjaga moral dan akidah anak bangsa di tengah moderenisasi zaman.
Menjadi Pimpinan Ponpes bagi Ustadz Nana, begitu sapaan akrabnya, memang harus bermental baja, terlebih dirinya bukanlah dari kalangan orang berada. Memiliki Pondok yang bagus dan nyaman memang merupakan harapan semua ustadz, namun bagi Ustadz Nana yang terpenting adalah berjalannya kegiatan mengajinya lah yang harus diutamakan.
Ponpes Salafiyah yang berdiri sejak tiga tahun silam itu diberi nama Nurul Hidayah. Dengan nama tersebut ia berharap tempat yang ia dirikan dapat menjadi cahaya hidayah bagi masyarakat terutama kaum muda untuk menimba ilmu agama.
Tak begitu banyak memang santri yang menetap di ‘Kobong Bilik’ miliknya itu, namun ia tetap Istiqomah memberikan ilmu kepada masyarakat yang mau belajar ilmu agama untuk bekal hidup mereka.
“Saat ini ada sekitar 15 santri, mayoritas santri berasal dari Kecamatan Mandalawangi. Untuk kegiatan ngaji rutin itu, setiap 5 waktu, setelah solat 5 waktu. Selain itu ada juga pengajian rutin tiap malam Senin untuk masyarakat bapak-bapak. Dan Ibu-ibu satu bulan sekali,” tutur Ustadz Nana.
Ditengah perjuangannya mensyiarkan ajaran agama Islam, ponpes salafi Ustadz Nana juga masih memiliki berbagai kebutuhan. Seperti MCK, Al-Quran, serta berbagai kebutuhan ponpes lainnya. Bahkan saat ini ponpes tersebut juga belum memiliki jaringan listrik mandiri, karena saat ini ia masih menumpang listrik kepada rumah orangtuanya yang jaraknya tak jauh dari ponpesnya.
“Ya pengennya mah ada listrik, tapi kita belum punya biaya untuk pasang sendiri Saat ini listrik ngikut ke orang tua. Kita juga belum punya kamar mandi atau MNC buat para santri. Untuk kitab Al-Quran juga kita terbatas,” bebernya.
Ia menambahkan, para santri sudah biasa hidup seadanya. Dengan makan bersama atau yang lebih dikenal ‘Ngaliwet’ para santri tetap ikhlas dan semangat menuntut ilmu di Pondoknya itu.
“Ya kalau buat bayar listrik, biasanya para santri iuran, ya berapa aja seikhlasnya. Ya kalau tidak ada ya saya harus cari buat nutup kebutuhan ponpes dan makan mereka,” tutupnya. (Gus/red)



