PANDEGLANG, – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kembali menunjukkan perannya sebagai solusi nyata di tengah keterbatasan ekonomi masyarakat. Manfaat tersebut dirasakan langsung oleh Ana Siti Nurhasanah (23), seorang wanita muda asal Kampung Ganjur, Desa Sodong, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, yang berhasil menjalani operasi kista tanpa harus terbebani biaya.
Ana mengaku sangat bersyukur atas keberadaan kartu JKN yang merupakan bagian dari layanan BPJS Kesehatan. Dengan kepesertaan tersebut, ia dapat mengakses layanan kesehatan di RSUD Aulia Pandeglang hingga menjalani tindakan operasi yang sebelumnya sempat membuatnya khawatir.
Kisahnya bermula dari keluhan yang ia rasakan sejak beberapa waktu lalu. Ana sering mengalami nyeri pada perut sebelah kiri, terutama saat menstruasi. Selain itu, siklus haidnya menjadi tidak teratur dan kondisi perutnya perlahan membesar.
“Awalnya saya kira hanya sakit biasa saat haid. Tapi lama-lama nyerinya makin sering dan perut terasa membesar. Saya jadi khawatir dan memutuskan untuk periksa,” ujar Ana saat ditemui di kediamnnya pada Jumat, 1 Mei 2026.
Setelah menjalani pemeriksaan medis, dokter menyatakan bahwa terdapat kista yang harus segera ditangani melalui operasi. Kabar tersebut sempat membuatnya cemas, terutama terkait biaya yang umumnya cukup besar untuk tindakan medis tersebut.
Namun, kekhawatiran itu berubah menjadi rasa lega ketika ia mengetahui bahwa seluruh biaya pemeriksaan, operasi, hingga perawatan ditanggung oleh BPJS Kesehatan melalui program JKN.
“Alhamdulillah, semua biaya ditanggung. Dari awal periksa sampai operasi, saya tidak mengeluarkan biaya. Ini sangat membantu, apalagi kondisi ekonomi kami terbatas,” ungkapnya.
Sebagai peserta JKN kelas III yang iurannya dibayarkan oleh pemerintah, Ana mengaku tetap mendapatkan pelayanan yang maksimal tanpa adanya perbedaan perlakuan. Ia merasakan langsung keramahan dan profesionalitas tenaga medis selama menjalani perawatan.
“Pelayanannya sangat baik. Tidak dibeda-bedakan, meskipun saya pakai BPJS kelas III. Dokter dan perawatnya ramah, cepat tanggap, dan membuat saya merasa nyaman,” katanya.
Selain pelayanan medis yang memuaskan, Ana juga menyoroti kemudahan dalam proses administrasi. Ia mengaku tidak mengalami kendala berarti karena seluruh prosedur dibantu oleh petugas rumah sakit.
“Prosesnya mudah, tidak ribet. Kami juga dibantu oleh petugas, jadi tidak bingung,” tambahnya.
Pengalaman Ana menjadi gambaran nyata bagaimana program JKN hadir sebagai bentuk perlindungan sosial yang memberikan akses layanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, kehadiran BPJS Kesehatan menjadi solusi yang meringankan beban biaya pengobatan.
Biaya operasi kista yang tidak sedikit kerap menjadi kendala bagi masyarakat untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat waktu. Namun melalui JKN, hambatan tersebut dapat diatasi sehingga pasien dapat segera memperoleh tindakan yang dibutuhkan tanpa harus menunda.
Kisah ini juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif dan merata. Dengan sistem gotong royong yang diterapkan dalam JKN, masyarakat yang mampu turut membantu mereka yang membutuhkan, sehingga tercipta keadilan dalam akses layanan kesehatan.
Ana berharap program BPJS Kesehatan dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya agar semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya.
“BPJS Kesehatan sangat membantu masyarakat kecil seperti saya. Semoga ke depan pelayanannya semakin baik dan terus ada,” tuturnya penuh harap.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak ragu memanfaatkan layanan kesehatan, terutama jika sudah terdaftar sebagai peserta JKN. Menurutnya, kesadaran untuk memeriksakan kondisi kesehatan sejak dini sangat penting agar penyakit dapat ditangani lebih cepat.
Kisah Ana Siti Nurhasanah menjadi bukti bahwa di balik keterbatasan ekonomi, akses terhadap layanan kesehatan yang layak tetap dapat dirasakan. Program JKN tidak hanya membantu dari sisi pembiayaan, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan kepastian bagi masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan, cerita dari Pandeglang ini menjadi cerminan bahwa negara hadir melalui program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, memberikan harapan perlindungan, dan kesempatan untuk hidup lebih sehat tanpa beban biaya yang memberatkan. (ADV)



