PANDEGLANG, — Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) Syekh Manshur menggelar Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) All Base V pada 17–18 Oktober 2026. Mengusung tema “Membakar Semangat Militansi, Meneguhkan Ideologi, Membangun Era Baru PMII”, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi ideologis dan membangun karakter kader yang kritis, berintegritas, serta memiliki keberpihakan terhadap persoalan masyarakat.
Ketua Komisariat PK PMII Syekh Manshur, Arya Mandalika, menegaskan bahwa kaderisasi tidak boleh berhenti pada proses penerimaan anggota baru. Menurut dia, tantangan organisasi mahasiswa saat ini bukan sekadar merekrut anggota sebanyak-banyaknya, melainkan membentuk kader yang memahami ideologi, arah perjuangan, dan tanggung jawab sosial organisasi.
Ia menilai, organisasi mahasiswa perlu menghindari rutinitas kegiatan yang hanya berorientasi pada formalitas, kebanggaan terhadap atribut, dan slogan perjuangan tanpa implementasi nyata.
“Militansi tidak boleh dimaknai sebagai kepatuhan tanpa pertanyaan, apalagi loyalitas buta terhadap individu atau struktur organisasi. Militansi sejati adalah keberanian menjaga prinsip, konsistensi dalam berproses, serta kesanggupan menyampaikan kritik ketika organisasi maupun lingkungan sosial membutuhkan evaluasi,” demikian pesan yang disampaikan dalam momentum MAPABA All Base V.
Arya menambahkan, kader PMII harus memiliki kemampuan membaca realitas sosial, menguji kebijakan secara kritis, serta menyampaikan pandangan berdasarkan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, militansi perlu berjalan beriringan dengan intelektualitas dan keberpihakan sosial.
“Kita tidak membutuhkan kader yang hanya ramai dalam forum, tetapi kehilangan keberanian ketika berhadapan dengan persoalan nyata. Militansi tanpa intelektualitas akan kehilangan arah, sementara intelektualitas tanpa keberpihakan sosial akan kehilangan makna,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menempatkan kaderisasi sebagai jantung organisasi. MAPABA, kata dia, bukan sekadar tahapan formal untuk memperoleh status keanggotaan, melainkan awal dari proses panjang pembentukan karakter, penguatan wawasan, dan internalisasi nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah serta Nilai Dasar Pergerakan (NDP).
Proses tersebut, lanjutnya, harus tercermin dalam perilaku kader, tradisi intelektual, dan keberanian merespons persoalan sosial secara bertanggung jawab.
Di tengah tantangan pragmatisme, melemahnya budaya literasi, dan kecenderungan menjadikan organisasi sebagai ruang pencarian pengakuan personal, kader PMII dituntut memperkuat tradisi membaca, berdiskusi, menulis, dan melakukan kajian. Gerakan organisasi juga perlu berangkat dari kebutuhan konkret mahasiswa dan masyarakat, bukan semata-mata retorika.
Menurut Arya, tema “Membangun Era Baru PMII” harus dimaknai sebagai dorongan untuk memperbarui pola pikir, budaya organisasi, dan strategi gerakan. Pembaruan tersebut membutuhkan keberanian mengevaluasi pola lama, membuka ruang kritik, memperkuat transparansi, serta membangun kepemimpinan yang bertanggung jawab.
Ia berharap MAPABA All Base V menjadi fondasi bagi lahirnya kader yang tidak hanya bangga menjadi bagian dari PMII, tetapi juga memahami tanggung jawab moral dan sosial yang melekat pada identitasnya.
Keberhasilan kaderisasi, menurutnya, tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang mengikuti kegiatan. Ukuran yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran ideologis, kedisiplinan berorganisasi, ketajaman analisis, serta kemauan mengabdikan pengetahuan untuk kepentingan masyarakat.
“Era baru PMII tidak lahir hanya karena pergantian generasi, tetapi karena keberanian kita membenahi cara berpikir, memperkuat ideologi, dan membuktikan keberpihakan melalui kerja nyata. Jangan sampai kita fasih berbicara tentang perubahan, tetapi abai melakukan perubahan dari dalam diri dan organisasi sendiri,” ujarnya.
Melalui MAPABA All Base V, PK PMII Syekh Manshur menegaskan komitmennya untuk memperkuat kaderisasi yang berorientasi pada pembentukan kader beriman, berilmu, kritis, dan bertanggung jawab. Militansi diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diwujudkan melalui penguatan ideologi, tradisi intelektual, dan pengabdian nyata kepada masyarakat.
PK PMII Syekh Manshur — Membakar Militansi, Meneguhkan Ideologi, Membangun Peradaban.


